Melalui buku 'The 8-Hour Diet: Watch the Pounds Disappear Without Watching What You Eat!', David Zinczenko dan Peter Moore mengajukan pola diet baru yang bisa menjadi alternatif berbagai usaha penurunan berat badan sebelumnya. Sebagai informasi, Zinczenko adalah pemimpin redaksi Men's Health dan telah menerbitkan buku diet laris seperti 'Eat This, Not That!' dan 'Abs Diet'.
Konsepnya, Anda bisa memilih untuk bebas makan selama delapan jam dalam sehari, misalnya pukul 09:00-17:00 atau 11.00-19.00. Setelah itu, Anda harus berpuasa. Konon, dengan cara ini, berat badan bisa turun hingga 4,5 kg seminggu atau 9 kg selama enam minggu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mereka menambahkan, kita memiliki jam biologis sebagai sinyal alami untuk berhenti berkegiatan. Namun, kita hampir setiap hari melanggar tanda tersebut. "Interval makan kita yang panjang membuat sistem pencernaan kita tak teratur, serta mengganggu banyak hormon dan enzim yang mengaturnya," tulis Zinczenko dan Moore.
Anggapan ini diperkuat oleh penelitian Dr. Satchidananda Panda dari Salk Institute for Biological Studies. Ia membagi tikus percobaan ke dalam dua kelompok dan memberi makanan yang sama tinggi kalori dan lemak. Namun, kelompok satu hanya boleh makan sepuasnya selama delapan jam, sementara kelompok lainnya boleh makan kapan saja.
Studi ini dijalankan selama 100 hari, dan terlihat bahwa kelompok yang bebas makan kapan saja menjadi gemuk. "Hanya membatasi asupan makanan selama delapan jam memberikan berbagai manfaat tanpa harus khawatir tentang asupan makanan," tulisnya dalam buku 'The 8-Hour Diet'.
Dari sini juga terlihat bahwa pembatasan waktu makan membuat tubuh membakar lebih banyak kalori sepanjang hari. Jadi, semakin panjang waktu makan, semakin malas metabolismenya. Jika dibatasi hanya delapan jam, kita juga bisa mencegah penyakit seperti diabetes, jantung, dan ginjal.
Buku ini menjelaskan secara mudah bahwa 8 Hour Diet adalah cara memperpanjang periode antara snack terakhir dan sarapan pagi. Hal ini memberikan tubuh kesempatan untuk membakar cadangan lemak menjadi energi yang dibutuhkan.
Sebelumnya sudah ada riset yang membuktikan keuntungan membatasi jam makan. Di American Journal of Clinical Nutrition edisi 2007 termuat studi yang melibatkan dua kelompok partisipan. Meski diberi sejumlah makanan dengan total kalori sama, kelompok pertama menghabiskannya dalam tiga kali makan sepanjang hari.
Sementara itu, kelompok kedua menyantapnya dengan kurun waktu terbatas. Terlihat bahwa partisipan yang menyantap dengan waktu terbatas memiliki perubahan komposisi tubuh yang signifikan, termasuk pengurangan massa lemak.
University of Copenhagen juga menemukan bahwa pria yang berpuasa dua hari sekali selama dua minggu, insulin di tubuh mereka jadi lebih efisien dalam mengatur gula darah.
(dyh/odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN