Konsumsi Junk Food Percepat Stroke dan Dementia

Konsumsi Junk Food Percepat Stroke dan Dementia

Fitria Rahmadianti - detikFood
Kamis, 18 Okt 2012 09:19 WIB
Foto: thinkstock
Jakarta - Junk food masih menjadi pilihan sebagian orang. Entah karena bosan dengan masakan tradisional, atau karena gaya hidup, hidangan ini laris manis di kota-kota besar. Hati-hati, karena menurut penelitian makanan ini dapat mempercepat stroke dan dementia!

Siapa yang tak suka cookies, sosis, atau cupcake? Semuanya terasa nikmat di lidah. Meski demikian, kita perlu waspada terhadap makanan barat yang tinggi kalori, gula, garam, dan lemak tersebut. Pasalnya, risiko kematian di usia muda ada di depan mata.

Temuan ini diumumkan pada Canadian Stroke Congress (1/10/12) lalu. Dr. Dale Corbett, ketua peneliti, mengaplikasikan percobaannya pada tikus. Tikus ini diberi akses tak terbatas terhadap pelet bernutrisi sekaligus junk food pilihan yang diberikan setiap hari.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk minumannya, disediakan air putih dan larutan sukrosa 30% sebagai tiruan soft drink. Seperti manusia, mereka juga lebih menyukai makanan dan minuman yang tak sehat namun enak.

Setelah dua bulan, ditemukan bahwa makanan tinggi kalori, gula, dan sodium menimbulkan sebagian besar gejala sindrom metabolik. Mereka mengalami kombinasi tingginya kadar kolesterol, gula darah, tekanan darah, dan obesitas. Saat penyakit mulai menyerang, usia tikus percobaan tersebut setara dengan 16-22 tahun umur manusia.

"Tampaknya kita akan segera melihat orang-orang di usia 30-an atau 40-an terkena stroke dan dementia (hilangnya fungsi otak) akibat junk food," kata Dr. Corbett dari Heart and Stroke Foundation Centre for Stroke Recovery. Menurutnya, anak muda akan mengalami masalah besar jauh lebih dini.

Dr. Corbett menegaskan pentingnya mencegah sindrom metabolik dengan olahraga rutin dan diet yang seimbang. "Kami tak yakin apakah sindrom metabolik dapat dimundurkan. Jika tak bisa, lalu kita terus hidup dan makan seperti ini, berarti kita seperti menghitung mundur menuju berbagai masalah kesehatan," katanya, seperti dikutip dari Huffington Post UK (17/10/12).

Dr. Corbett mengatakan bahwa studi ini membuka kesempatan untuk penelitian lebih lanjut. Menurutnya, percobaan di laboratorium sering menggunakan hewan muda yang lebih sehat dan mengonsumsi makanan yang lebih baik daripada manusia.

"Bagaimanapun juga, penting diingat bahwa akibatnya bisa jadi lebih buruk pada sebagian besar orang. Pasalnya, banyak penderita stroke juga memiliki masalah kesehatan sebelumnya," Dr. Corbett memperingatkan.



(fit/odi)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads