Extra Virgin dan Extra Light Olive Oil, Apa Bedanya?

- detikFood Senin, 21 Mei 2012 11:32 WIB
Foto: Detikfood Foto: Detikfood
Jakarta - Saat memilih minyak zaitun di pasar swalayan, seringkali kita bingung dengan jenis-jenisnya. Ada yang bernama 'olive oil' saja, tapi ada pula yang berlabel 'extra virgin', 'extra light', dan sebagainya. Apa yang membedakan?

Minyak zaitun berasal dari buah zaitun yang diproses menjadi pasta. Pasta tersebut diaduk perlahan hingga titik-titik minyaknya menyatu menjadi konsentrat. Lalu, minyak itu diekstraksi dengan alat pres atau dengan teknik centrifugation. Dari sinilah jenis-jenis minyak zaitun yang berbeda diperoleh.

Extra virgin olive oil adalah minyak zaitun berkualitas terbaik atau grade A. Minyak ini diproduksi secara alami, tanpa bahan kimiawi atau metode fisik. Aroma dan citarasanya istimewa, dengan kadar keasaman kurang dari 0.8%.

Extra virgin olive oil murni tidak berubah fisiknya walau diletakkan di kulkas selama berhari-hari. Tidak akan terlihat lapisan minyak beku di permukaannya. Botolnya pun berbeda dengan minyak zaitun jenis lain, yaitu berwarna hijau. Hal ini bertujuan untuk menghindarkan minyak dari paparan sinar matahari langsung yang dapat merusak kualitasnya.

Refined olive oil adalah minyak zaitun yang diberi perlakuan kimiawi untuk memperbaiki kualitasnya yang kurang bagus. Zat kimia ditambahkan untuk menetralkan rasanya yang kuat dan kadar keasamannya yang tinggi.

Pure olive oil dan extra light adalah campuran virgin olive oil dan refined olive oil, namun dengan komposisi berbeda. Harganya lebih murah dibanding virgin olive oil. Keduanya dikemas dalam botol bening. Warna pure olive oil kuning keemasan, sementara extra light kuning bening. Extra light memiliki rasa dan aroma yang paling lembut di antara yang lain.

Pada acara 'Borges Olive Oil, Healthy Beauty Life' di La Piazza, Rabu (16/5), Chef Stefu Santoso memberikan saran tentang penggunaan minyak zaitun pada masakan. Menurut chef di restoran Amuz Gourmet ini, minyak zaitun yang cocok dipakai menggoreng atau memanggang adalah extra light.

Pure olive oil digunakan untuk menumis atau dicampur ke sup, casserole, vinaigrette, dan mayones. Sementara itu, extra virgin olive oil sebaiknya digunakan mentah, bukan untuk memasak. "Nanti aromanya hilang. Sayang, karena harganya relatif mahal," jelas Chef Stefu.

Di acara ini, Chef Stefu mempraktikkan resep spaghetti dan steak. Ia juga membagikan resep saus chimichurri dari Amerika Latin, yaitu parsley yang diiris halus, bawang putih cacah, oregano, red wine vinegar, dan minyak zaitun. "Saus ini sering digunakan untuk steak," kata Chef Stefu.

Untuk salad, Chef Stefu menyarankan french dressing. Saus ini terbuat dari pure olive oil, mustard, red wine vinegar, garam, dan lada. Namun, tuang minyak zaitun atau salad dressing yang mengandung minyak zaitun saat salad akan disantap saja. "Selain agar rasanya terjaga, juga agar salad tidak rusak karena asam dalam minyak zaitun," kata Chef Stefu.

Borges olive oil adalah salah satu merk minyak zaitun terkemuka di dunia. Sejak 1896, merk asal Spanyol ini terus menjaga kualitas dan kemurnian minyak zaitun karena perkebunan dan pabriknya terletak berdekatan. Karena telah mengantongi sertifikat ISO 9001 dan 14001, Kosher, serta Halal Control e.K, Borges dipercaya oleh konsumen di lebih dari 100 negara di 5 benua.


(fit/odi)