Centers for Disease Control and Prevention melaporkan bahwa semakin banyak anak usia 8 tahun yang menderita autism spectrum disorder (ASD). Pada periode 2002-2008, terdapat peningkatan hampir 80%.
Saat ini, 1 di antara 88 anak menderita ASD. Jumlah anak laki-laki lebih banyak 5 kali lipat dibanding anak perempuan. Jumlah anak autis yang mendapat pendidikan khusus di Amerika Serikat juga naik 91% pada 2005-2010.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam jurnal Clinical Epigenetics tertulis bahwa konsumsi sirup jagung tinggi fruktosa (high fructose corn syrup) atau HFCS terkait dengan berkurangnya kandungan zinc pada makanan. Kekurangan zinc membuat tubuh tak mampu membuang logam berat seperti arsenik, cadmium, dan merkuri. Racun tersebut punya efek merugikan bagi perkembangan otak anak.
Mineral baik seperti kalsium pun bisa dipengaruhi oleh konsumsi HFCS. Kekurangan kalsium bisa memperparah dampak merugikan terhadap janin dan perkembangan otak anak. Efek buruknya juga dapat melemahkan kemampuan tubuh menyingkirkan organophosphate, jenis pestisida yang berefek toksin pada perkembangan otak anak.
βFaktor nutrisi dan terpaan zat kimia beracun bersifat kumulatif dan sinergis dalam mengacaukan perkembangan otak normal,β ujar Dr. Richard Deth, penulis studi ini. Seperti dikutip dari Medical News Today, Richard menambahkan bahwa efek tersebut juga bisa diturunkan dari generasi ke generasi.
βAngka autisme terus bertambah. Oleh karena itu, penerapan perspektif baru ini ke dalam pencegahan, diagnosis, dan perawatan penderita autisme sangat mendesak,β tutup Richard. Sirup jagung biasa dipakai dalam produk permen, kue, serta campuran beberapa makanan ringan dan cokelat.
(fit/odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN