Berdasarkan berita yang dilansir Daily Mail, sebotol sport drink berukuran 500 ml mengandung 150 kkal kalori. Untuk membakarnya, dibutuhkan 20 menit jalan cepat. Kebanyakan sport drink juga mengandung kafein yang bisa memicu masalah jantung dan gangguan tingkah laku.
Oleh karena itu, European Food Safety Authority (EFSA) menyarankan minuman isotonik hanya dikonsumsi oleh individu aktif yang melakukan olahraga berat. Bagi karyawan kantoran, sport drink bisa jadi berbahaya bagi kesehatan karena pekerjaannya tak melibatkan banyak aktivitas fisik, sehingga kalori tidak terbakar dengan efektif.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari 2,000 orang yang mengikuti survei, sekitar 400 orang mengaku minum sport drink ketika merasa lelah. Namun, ada pula yang meneguk minuman ini sebagai obat mabuk. Data tahun 2010 menunjukkan bahwa konsumsi sport drink di Inggris mencapai 160 juta liter dan menghabiskan biaya lebih dari Rp 3,7 milyar.
Sayangnya, air atau sport drink belum dianggap barang wajib yang harus dibawa saat berolahraga. Hampir 80% responden mengaku lupa minum sebelum berlatih fisik. Sebanyak 60% partisipan sering tak memerhatikan tingkat hidrasi mereka setelah berolahraga.
Belum lagi ada 30% orang tidak membawa minuman di tas olahraga mereka. Air minum pun berada di peringkat terbawah saat responden ditanyai mengenai hal apa yang paling penting saat berolahraga. Mereka menganggap pakaian olahraga yang bagus dan pelatih spesialis lebih penting.
Dr. Paul Gately khawatir akan situasi dan tingkat konsumsi sport drink ini. Ia berpendapat bahwa minuman tersebut dirancang untuk orang yang sangat aktif, dengan intensitas olahraga tinggi, dan berlatih selama lebih dari 45 menit.
ββHal yang lebih mengkhawatirkan adalah temuan bahwa orang-orang tidak cukup banyak meneguk air putih dan tidak meminumnya pada saat yang tepat,β ujar Profesor Exercise and Obesity di Leeds Metropolitan University.
(Odi/Odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN