Institute Food and Nutrition in The Netherlands meneliti 10 orang berusia 26-50 tahun. Custard vanila disalurkan ke mulut mereka dengan pompa. Secara bersamaan, intensitas aroma yang bervariasi disemprotkan ke belakang hidung dan tenggorokan. Mereka melakukannya sebanyak 30 kali.
Partisipan dapat mengontrol seberapa banyak 'semprotan' dengan menekan tombol. Dengan begitu, peneliti dapat menghitung berapa kali mereka 'menyuapkan' custard.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
βTubuh memiliki mekanisme pengaturan otomatis. Kita makan lebih sedikit untuk menghindari sensasi yang terlalu kuat,β jelas Dr. Rene de Wijk, penulis studi ini, kepada TIME Healthland. Selain itu, secara tidak sadar, aroma kuat akan membuat kita menganggap makanan tersebut kaya kalori dan lebih kental, sehingga lebih mengenyangkan.
Jika penelitian yang dimuat di jurnal Flavour ini bisa diterapkan di semua makanan, maka aroma kuat dinilai dapat membantu diet. Hidangan berkalori tinggi bisa dibuat lebih beraroma agar kita memakannya sedikit-sedikit. Dengan cara ini, kita akan lebih cepat kenyang, sehingga jumlah makanan yang kita santap akan lebih sedikit. Berat badanpun jadi lebih terkontrol.
(Odi/Odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN