Hidup bersama pasangan tak sekedar berbagi suka dan duka tetapi juga saling mempengaruhi dalam pola makan. Tak heran jika banyak orang menjadikan pasangan sebagai penyebab kegagalan atau kesuksesan diet yang dilakukan.
Seperti yang diungkap oleh Framingham Heart Study baru -baru ini. Penelitian yang melibatkan 3000 orang ini berusaha mengungkap apakah keterkaitan secara sosial berpengaruh pada kebiasaan makan. Mereka mencoba meneliti peran pasangan, teman-teman kaka atau adik terhadap pola makan selama kurun waktu 10 tahun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan pasangan biasanya keterlibatannya sangat kuat. Satu orang bisa terus-menerus terlibat dalam menyiapkan makanan untuk keluarga. Namun, bukan hanya pasangan, teman-teman juga ikut berperan dalam membentuk pola makan, terutama untuk konsumsi camilan dan alkohol.
Dalam soal minuman dan camilan kecenderungan berbagai antar teman sangat kuat. 'Makanan kecil cenderung lebih mudah dibagi dan perlu waktu lebih singkat untuk menikmatinya dibandingkan makanan besar,' demikian tutur Paul.
Sebaliknya makanan sehat dan segar juga makanan yang lebih ringan lebih sedikit dibagi di antara teman juga dengan kelompok lain. Menurut Jessica Crandall, seorang ahli gizi dan jubir American Dietitian Association, riset ini penting agar orang waspada dan memantau pola makannya semdiri.
Jessica juga menemukan pernikahan berpengaruh pada berat badan wanita. Para pasiennya yang mengalami penurunan berat badan karena jauh dari pasangan, menjadi gemuk setelah pasangannya kembali. Mereka menjadi sangat mudah ngemil dan minum minuman manis kapanpun. Diet penurunan berat badan lebih berhasil jika pasangan ikut serta mendukung.
(Odi/Odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN