Beberapa mitos kopi ternyata tidak sepenuhnya benar. Mulai dari pemahaman soal dark roast, dehidrasi, hingga penyakit jantung, ini penjelasannya berdasarkan sains.
Kopi menjadi salah satu minuman yang paling dekat dengan keseharian. Tak hanya soal rasa, minuman ini juga kerap dikaitkan dengan berbagai anggapan soal kesehatan.
Beragam informasi tentang kopi beredar dari mulut ke mulut. Sebagian terdengar masuk akal, tetapi belum tentu sesuai dengan hasil penelitian ilmiah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dilansir dari Popular Science (16/10/2026), sejumlah anggapan populer tentang kopi ternyata tidak sepenuhnya benar. Penjelasan ilmiah pun bisa membuat kita melihat kebiasaan minum kopi dari sudut pandang berbeda.
Berikut ini 4 mitos kopi yang sebaiknya tak lagi dipercaya:
Semakin gelap biji kopi, ternyata belum tentu semakin tinggi kafeinnya. Foto: Getty Images/Mikolette |
1. Dark Roast Lebih Tinggi Kafein
Banyak orang mengira kopi dark roast lebih kuat karena rasanya lebih pekat. Padahal, tingkat sangrai tidak otomatis membuat kandungan kafeinnya lebih tinggi.
Penelitian pada 2017 membandingkan kopi medium dan dark roast dari biji Arabika yang sama. Hasilnya justru menunjukkan konsentrasi kafein lebih tinggi pada sampel medium roast.
Jadi, rasa kopi yang lebih bold tidak berarti efek kafeinnya juga lebih besar. Sensasi kuat pada dark roast lebih berkaitan dengan proses sangrai dan karakter rasanya.
2. Kopi Menghambat Pertumbuhan
Ada anggapan bahwa minum kopi dapat menghambat pertumbuhan anak. Namun, Popular Science menyebut belum ada bukti ilmiah yang menghubungkan konsumsi kopi dengan pertumbuhan.
Dokter Roy Kim dari Cleveland Clinic juga menyatakan bahwa kafein tidak memengaruhi pertumbuhan. Efeknya sebagai penekan nafsu makan juga tidak terbukti berdampak berarti pada tumbuh kembang.
Namun, anak tetap perlu membatasi kafein karena alasan lain. Konsumsi kafein dapat berkaitan dengan gangguan tidur, kecemasan, gangguan perut hingga masalah perhatian.
3. Kopi Menyebabkan Dehidrasi
Kafein memang memiliki efek diuretik yang dapat membuat seseorang lebih sering buang air kecil. Namun, hal itu bukan berarti minum kopi langsung menyebabkan tubuh kehilangan banyak cairan.
Studi pada 2014 membandingkan konsumsi empat cangkir kopi dengan air pada 50 pria. Hasilnya tidak menemukan perbedaan signifikan dalam kemampuan keduanya menjaga hidrasi tubuh.
Alasannya cukup sederhana, kopi sebagian besar tetap terdiri dari air. Efek diuretik kafein juga relatif ringan sehingga tidak menghapus cairan yang diperoleh dari minuman tersebut.
Konsumsi kopi dengan tepat justru dapat menyehatkan jantung. Foto: Getty Images/Chattrawit phonsan |
4. Kopi Membahayakan Jantung
Kopi sering dianggap bisa membahayakan jantung karena kafein dapat membuat detak jantung terasa lebih cepat. Namun, penelitian tidak menunjukkan bahwa konsumsi kopi secara langsung menyebabkan penyakit jantung.
Penelitian pada 2022 bahkan menemukan kaitan antara konsumsi kopi dan kesehatan jantung yang lebih baik. Konsumsi sekitar dua hingga tiga cangkir sehari dikaitkan dengan penurunan risiko penyakit kardiovaskular.
Namun artinya, bukan kopi boleh diminum tanpa batas. Kebutuhan setiap orang berbeda sehingga konsumsi kafein tetap sebaiknya disesuaikan dengan kondisi tubuh masing-masing.
Simak Video "Video: Saat Kopi Jadi Tren, Masih Adakah Masa Depan Teh Jawa Barat?"
[Gambas:Video 20detik] (dfl/adr)



KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN