Ramen Jepang belum tentu halal meski dibuat tanpa daging dan lemak babi. Muslim perlu memperhatikan 5 titik kritis kehalalan ramen, mulai dari kaldu hingga bumbunya.
Ramen menjadi salah satu makanan khas Jepang yang digemari di Indonesia. Hidangan mie berkuah ini hadir dengan beragam pilihan kaldu, bumbu, dan topping yang menggugah selera.
Namun, tidak semua ramen otomatis halal untuk dikonsumsi umat muslim. Ada sejumlah bahan dan proses pengolahan yang perlu diperhatikan, termasuk penggunaan kaldu babi hingga bumbu mengandung alkohol.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dilansir dari Indonesia Halal Training & Education Center (IHATEC) (16/10/2026), berikut lima titik kritis kehalalan ramen yang penting diketahui:
1. Kuah atau Kaldu Ramen
kuah kaldu ramen umami. Foto: detikFood/Yenny Mustika Sari |
Kuah menjadi salah satu komponen penting yang menentukan rasa sekaligus kehalalan ramen. Kaldu ramen umumnya dibuat dari ayam, sapi, seafood, atau babi.
Salah satu jenis yang perlu diperhatikan adalah menu tonkotsu ramen, yang secara tradisional menggunakan kaldu dari tulang babi.
Selain bahan utama, penggunaan minyak, penyedap, dan bahan tambahan dalam kuah juga perlu diperiksa. Sebab, beberapa bahan tersebut berpotensi mengandung turunan bahan nonhalal.
Konsumen muslim disarankan memastikan sumber kaldu dan bahan pelengkapnya sebelum memesan ramen di restoran.
2. Mirin dan Sake
Dalam masakan Jepang, mirin dan sake sering digunakan untuk menambah rasa serta aroma makanan. Kedua bahan ini merupakan salah satu titik kritis yang perlu diperhatikan saat menentukan kehalalan ramen.
Mirin merupakan bumbu masak khas Jepang yang umumnya mengandung alkohol, sedangkan sake dikenal sebagai minuman beralkohol berbahan beras.
Penggunaan kedua bahan tersebut dalam kuah, saus, atau bumbu ramen perlu dicermati. Karena itu, konsumen Muslim sebaiknya menanyakan komposisi bumbu kepada pihak restoran untuk memastikan makanan yang dipesan memenuhi ketentuan halal.
3. Daging dan Chashu
ramen Jepang Foto: ramen Jepang |
Chashu merupakan salah satu topping ramen yang biasanya berupa irisan daging dengan tekstur empuk. Dalam hidangan ramen tradisional Jepang, chashu umumnya menggunakan daging babi.
Namun, kini banyak restoran yang menawarkan variasi chashu berbahan ayam atau sapi sebagai alternatif.
Meski demikian, penggunaan ayam atau sapi tidak otomatis menjamin kehalalan ramen. Sumber daging dan proses penyembelihannya juga harus memenuhi ketentuan halal.
4. Shoyu dan Bumbu Ramen
Shoyu atau kecap Jepang menjadi salah satu bumbu yang sering digunakan dalam ramen. Bahan ini memberikan rasa gurih dan menjadi komponen utama dalam beberapa jenis kuah.
Selain shoyu, ramen juga menggunakan miso, minyak bawang, saus, penyedap, dan berbagai bahan tambahan lainnya.
Kehalalan bahan tersebut perlu diperhatikan karena komposisi dan proses pembuatannya dapat berbeda. Beberapa produk bumbu memiliki campuran bahan yang cukup kompleks.
5. Topping Ramen
Ilustrasi ramen Jepang Foto: Getty Images/iStockphoto/Torjrtrx |
Selain daging, ramen biasanya dilengkapi berbagai topping seperti telur, nori atau rumput laut, jamur, seafood, menma, hingga fish cake atau olahan ikan.
Meski sebagian bahan tersebut pada dasarnya halal, proses pengolahan dan penggunaan bumbu tambahan tetap perlu diperhatikan.
Contohnya, fish cake dapat mengandung bahan tambahan dengan sumber yang perlu diperiksa. Begitu pula topping yang dimarinasi menggunakan saus atau bumbu tertentu.
Untuk memastikan kehalalannya, konsumen muslim sebaiknya memilih restoran bersertifikat halal dan tidak hanya mengandalkan keterangan tanpa babi pada menu.
Simak Video "Rasakan Kreasi Menu di Dunia Wonderland ala Mie Sedaap Ini!"
[Gambas:Video 20detik] (sob/adr)




KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN