Beberapa makanan tradisional ternyata ada yang menggunakan tanah sebagai bahan utamanya. Di Haiti hingga Indonesia, ada olahan berbahan tanah yang bisa dimakan!
Praktik mengonsumsi tanah atau bahan mineral dari alam dikenal dengan istilah geophagy. Kebiasaan ini telah ditemukan di berbagai wilayah dunia dan memiliki latar belakang budaya hingga kepercayaan tertentu.
Tanah yang dikonsumsi tidak selalu berupa tanah biasa. Ada yang menggunakan tanah liat, lempung, atau material mineral tertentu yang diolah menjadi makanan, camilan, maupun bahan pelengkap hidangan tradisional.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, praktik ini perlu dibedakan dari kebiasaan memasukkan tanah ke dalam makanan secara tidak sengaja. Tanah dapat mengandung logam berat, parasit, bakteri, dan kontaminan lain yang berisiko bagi kesehatan.
Berikut ini 5 makanan tradisional yang menggunakan tanah sebagai bahan bakunya:
Camilan ampo asal pulau Jawa menggunakan bahan dasar berupa tanah. Foto: Istimewa |
1. Ampo
Ampo merupakan camilan tradisional yang dikenal di sejumlah daerah di Jawa, terutama Jawa Tengah dan Jawa Timur. Makanan ini terbuat dari tanah liat yang dibentuk dan diproses menjadi gulungan atau lembaran tipis menyerupai camilan renyah.
Berbeda dari makanan ringan pada umumnya, ampo dibuat tanpa campuran bahan makanan lain. Tanah liat dipilih sebagai bahan utama dan diolah menggunakan teknik tradisional.
Ampo juga dikaitkan dengan kepercayaan masyarakat setempat mengenai khasiatnya bagi tubuh. Namun, klaim manfaat kesehatan tersebut tidak boleh dianggap terbukti secara ilmiah.
2. Bonbon Te
Haiti memiliki makanan yang dikenal sebagai bonbon tè, yang secara harfiah dapat diartikan sebagai biskuit tanah. Camilan ini dibuat menggunakan tanah atau lempung yang dicampur dengan garam dan lemak nabati.
Bonbon tè pernah dikonsumsi oleh masyarakat berpenghasilan rendah sebagai cara untuk mengatasi rasa lapar ketika makanan sulit diperoleh. Meski disebut biskuit, bahan utamanya bukan tepung terigu seperti pada kue kering biasa.
Makanan ini memiliki nilai gizi yang sangat terbatas. Konsumsi dalam jangka panjang juga berisiko menimbulkan gangguan kesehatan, sehingga tidak dianjurkan sebagai pengganti makanan bergizi.
3. Chaco
Di kawasan Andes, Peru, terdapat tradisi mengonsumsi kentang bersama tanah liat khusus yang dikenal sebagai chaco. Bahan tersebut merupakan lempung yang telah digunakan masyarakat setempat sejak zaman pra-Kolumbus.
Chaco biasanya dicampur dengan air dan digunakan sebagai pendamping kentang. Tradisi ini berkaitan dengan pengolahan kentang lokal yang mengandung senyawa glikoalkaloid, yang dapat menimbulkan iritasi pada saluran pencernaan jika kadarnya tinggi.
Dalam tradisi masyarakat Andes, tanah liat dipercaya membantu mengurangi rasa pahit kentang dan mengikat senyawa tertentu. Penelitian mengenai praktik ini menjadi salah satu cara untuk memahami hubungan antara pengetahuan kuliner tradisional dan sifat mineral alami.
Di Kamerun dan Gabon, juga ada camilan berbahan tanah yang dikonsumsi oleh masyarakat setempat. Foto: Istimewa |
4. Kalaba
Di Kamerun dan Gabon, terdapat praktik mengonsumsi tanah liat yang dikenal dengan sebutan kalaba. Bahan ini umumnya mengandung kaolin, yaitu mineral lempung berwarna terang yang juga ditemukan dalam berbagai penggunaan industri.
Kalaba dapat dijual di pasar tradisional dan dikonsumsi langsung. Di beberapa tempat, tanah liat tersebut diberi tambahan rempah-rempah, seperti lada hitam dan kapulaga, untuk memberikan cita rasa tertentu.
Sebagian orang mengonsumsinya karena tradisi atau untuk meredakan rasa mual, termasuk ketika hamil. Namun, tanah liat tersebut berpotensi mengandung timbal dan arsenik yang membahayakan kesehatan ibu maupun janin.
5. Waqa
Di kawasan Peru dan Bolivia, juga ada yang namanya waqa. Hidangan ini merupakan campuran tanah liat dengan air dan garam yang digunakan untuk mendampingi kentang. Tradisi ini berkaitan dengan praktik konsumsi kentang lokal yang telah berlangsung selama ribuan tahun.
Dalam praktik tersebut, kentang dikonsumsi dengan mencelupkannya ke dalam campuran tanah liat. Penggunaan lempung dipahami sebagai bagian dari pengetahuan tradisional mengenai pengolahan bahan pangan lokal.
Praktik ini memperlihatkan bahwa bahan mineral dari alam pernah menjadi bagian dari kebiasaan makan masyarakat tertentu. Namun, keamanan setiap jenis tanah liat perlu dinilai secara khusus karena komposisi mineral dan potensi kontaminasinya berbeda-beda.
Simak Video "Rasakan Kreasi Menu di Dunia Wonderland ala Mie Sedaap Ini!"
[Gambas:Video 20detik] (dfl/adr)



KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN