5 Jenis Alergi Makanan Paling Umum, Ada yang Bertahan Seumur Hidup

5 Jenis Alergi Makanan Paling Umum, Ada yang Bertahan Seumur Hidup

Sonia Basoni - detikFood
Senin, 05 Okt 2026 16:30 WIB
Boy scratching his face. Human skin, presenting an allergic reaction, allergic rash on face and lips. Health care and medicine concept.
Foto: Getty Images/iStockphoto/Elena Slepitskaya
Jakarta -

Alergi makanan tak boleh dianggap sepele karena beberapa jenis bisa memicu reaksi serius. Kacang tanah hingga seafood termasuk asupan yang perlu diwaspadai.

Alergi makanan dapat menimbulkan reaksi berbeda pada setiap orang, mulai dari keluhan ringan hingga kondisi serius yang mengancam nyawa.

Reaksi terjadi ketika sistem kekebalan tubuh merespons protein tertentu dalam makanan secara berlebihan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Beberapa jenis alergi lebih sering dialami anak-anak dan dapat menghilang seiring bertambahnya usia. Namun, ada pula alergi yang umumnya bertahan seumur hidup.

Dilansir dari Life Hacker (05/10/2026), berikut lima jenis alergi makanan yang dapat memicu reaksi serius dan perlu diwaspadai.

ADVERTISEMENT

1. Kacang Tanah

MPASI kacang tanah untuk cegah alergiMPASI kacang tanah untuk cegah alergi Foto: Getty Images/iStockphoto/yamasan

Alergi kacang tanah termasuk salah satu alergi makanan yang paling dikenal dan dapat memicu reaksi berat.

Pada sebagian orang, konsumsi kacang tanah bisa menyebabkan anafilaksis, yaitu reaksi alergi serius yang dapat mengganggu pernapasan, menurunkan tekanan darah, hingga menyebabkan hilangnya kesadaran.

Meski demikian, sekitar 20% anak dilaporkan dapat terbebas dari alergi ini seiring bertambahnya usia. Terdapat pula terapi dengan pemberian kacang tanah dalam dosis kecil di bawah pengawasan medis untuk membantu mengurangi tingkat keparahan reaksi, tetapi bukan menyembuhkan alerginya.

2. Telur

Ilustrasi telurIlustrasi telur Foto: Getty Images/Poravute

Alergi telur dapat dipicu protein yang terdapat pada putih maupun kuning telur. Seseorang bahkan bisa mengalami alergi terhadap salah satunya dari komponen telur.

Biasanya alergi putih telur disebut lebih umum terjadi. Kabar baiknya, alergi jenis ini cukup sering menghilang seiring bertambahnya usia. Gejala alergi telur bisa bersifat ringan berupa ruam kulit atau hidung tersumbat, hingga berat, seperti muntah dan sesak napas.


Sebuah penelitian menemukan 66% anak yang mengalami alergi telur sudah tidak mengalaminya ketika berusia lima tahun.

Selain itu, sekitar 70-80% penderita alergi telur disebut masih dapat mengonsumsi telur yang dimasak hingga matang, misalnya sebagai bahan dalam makanan yang dipanggang.

3. Susu

Alergi susu sapi cukup sering dialami bayi dan balita, dengan angka sekitar 2-3%. Kondisi ini berbeda dengan intoleransi laktosa yang lebih umum ditemukan pada orang dewasa.

Gejalanya berupa ruam kulit, gangguan pernapasan, gangguan pencernaan, diare, pilek, kolik (pada bayi).

Pada bayi dengan alergi susu sapi, penanganannya dapat berupa mengganti susu formula dengan jenis lain yang sesuai. Jika bayi masih mendapatkan ASI, ibu mungkin perlu menghindari susu sapi dalam pola makannya.

Alergi ini juga sering menghilang seiring pertumbuhan anak. Sekitar 75% bayi dengan alergi susu dilaporkan sudah terbebas dari kondisi tersebut ketika berusia tiga tahun.

4. Kerang dan Seafood Bercangkang

Alergi seafood bercangkang dapat muncul akibat protein pada kelompok krustasea maupun moluska. Jenis makanannya mencakup udang, kepiting, lobster, tiram, scallop, kerang, dan remis.

Alergi terhadap krustasea, terutama udang, kepiting, dan lobster, lebih umum dibandingkan alergi terhadap moluska. Reaksinya bahkan tidak selalu terjadi setelah makanan dikonsumsi.

Gejala alergi kerang/seafood biasanya biduran, kulit gatal, bengkak bibir/wajah, mual, muntah, diare, sakit perut, sesak napas, mengi hingga pusing.

Sebagian penderita dapat bereaksi terhadap uap yang muncul ketika seafood tersebut dimasak sehingga perlu menghindari area memasak. Berbeda dengan beberapa alergi pada anak-anak, alergi seafood bercangkang umumnya berlangsung seumur hidup.

5. Kedelai

Lauk-Pauk untuk Penderita Asam Lambung yang Mudah Ditelan, Perut Jadi NyamanLauk-Pauk dari kedelai. Foto: topntp26/Freepik

Alergi kedelai lebih banyak ditemukan pada anak-anak dan sering kali menghilang seiring pertambahan usia. Lebih dari separuh anak dengan alergi ini dilaporkan sudah tidak mengalaminya ketika berusia tujuh tahun.

Reaksi muncul ketika sistem kekebalan tubuh merespons protein kedelai secara berlebihan. Pemicunya dapat berasal dari susu formula berbasis kedelai, edamame, kecap kedelai, tahu, maupun produk lain yang mengandung kedelai.

Gejalanya dapat berbeda pada setiap orang, mulai dari gangguan pencernaan dan batuk hingga gatal, biduran, eksim, serta pembengkakan pada bagian tubuh tertentu.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Nikmatnya Kulineran Seafood di Teluk Regol Rembang"
[Gambas:Video 20detik] (sob/adr)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads