Darah Kaya Protein dan Zat Besi, tapi Mengapa Haram Dikonsumsi?

Darah Kaya Protein dan Zat Besi, tapi Mengapa Haram Dikonsumsi?

Beta Lukitasari Wijaya - detikFood
Senin, 28 Sep 2026 11:00 WIB
Tak Biasa! 8 Kuliner Ekstrem Indonesia yang Dibuat dari Tikus hingga Darah
Foto: Istimewa
Jakarta -

Darah mengandung protein dan zat besi, tetapi haram dikonsumsi umat Muslim. Profesor UI, Prof Zulys, mengungkap empat alasan medis di balik larangan tersebut.

Beberapa darah hewan kerap diolah menjadi berbagai jenis makanan. Contohnya di Jawa, hidangan olahan darah yang paling dikenal adalah saren, yakni darah ayam atau bebek yang dicampur santan dan bumbu kemudian dikukus hingga menjadi padat.

Bentuknya menyerupai kue atau lontong, yang kemudian dipotong-potong dan digoreng atau dimasak bacem.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, syariat Islam tetap mengharamkan darah untuk dikonsumsi umat Muslim. Makanan dari darah diharamkan sejajar dengan bangkai dan daging babi, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran Surah Al-Baqarah ayat 173.

5 Kuliner Ekstrem yang Terbuat dari Darah BabiIlustrasi makanan yang Terbuat dari Darah hewan. Foto: YouTube Bali Foodie

"Sesungguhnya Dia hanya mengharamkan atasmu bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih dengan (menyebut nama) selain Allah. Tetapi siapa saja yang terpaksa (memakannya), bukan karena menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."

ADVERTISEMENT

Hal ini juga dibahas oleh Prof. Dr. rer. nat. Agustino Zulys, M.Sc, yang merupakan Guru Besar di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Indonesia (UI).

Ia aktif memberikan konten edukasi di akun TikTok dan Instagram pribadinya @prof.zulys yang memiliki lebih dari 300 ribu followers.

"Mengapa darah diharamkan? Padahal darah mengandung protein, zat besi, bahkan nutrisi. Bukankah itu justru menyehatkan?" ujar Prof Zulys membuka pembahasannya, lewat konten bertajuk 'Behind the Science' (24/09/2026).

Darah Kaya Protein dan Zat Besi, tapi Mengapa Haram Dikonsumsi?Penjelasan larangan konsumsi makanan olahan darah. Foto: Instagram/@prof.zulys

Menurutnya, ada empat alasan medis yang mendasari larangan tersebut.

Pertama, darah merupakan media transportasi utama dalam tubuh yang membawa oksigen, nutrisi, dan hormon, sekaligus limbah metabolisme, racun, dan mikroba.

"Karena itu, secara medis darah berpotensi menjadi media penularan berbagai penyakit seperti Hepatitis B, Hepatitis C, berbagai infeksi bakteri," ujarnya.

Kedua, darah yang keluar dari pembuluh menjadi media subur bagi pertumbuhan bakteri karena kandungan protein dan airnya.

Ketiga, kadar zat besi yang berlebihan justru berisiko. Konsumsi zat besi berlebih dalam jangka panjang dapat memicu penumpukan yang merusak hati, pankreas, dan jantung.

"Tidak semua yang bergizi boleh dikonsumsi tanpa batas," tegas Prof Zulys.

Keempat, hingga kini belum ada bukti ilmiah bahwa minum darah memberikan manfaat kesehatan khusus.

Kebutuhan protein dan zat besi, menurutnya, bisa diperoleh lebih aman dari daging, ikan, telur, atau hati.

Prof Zulys menambahkan, Islam sebenarnya tidak mengharamkan sisa darah alami yang masih menempel pada daging setelah proses penyembelihan. Larangan hanya berlaku bagi darah yang mengalir keluar dari tubuh hewan.

"Tidak semua yang dilarang Allah langsung bisa dijelaskan oleh sains, namun sains dapat menguatkan hikmah di balik larangannya," ucap Prof Zulys menutup video tersebut.



(sob/sob)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads