Bertani Sejak 2009, Keluarga Ini Sukses Kembangkan Kopi Langka di Garut

Ngopi Yuk!

Bertani Sejak 2009, Keluarga Ini Sukses Kembangkan Kopi Langka di Garut

Diah Afrilian - detikFood
Minggu, 20 Sep 2026 07:00 WIB
Cing Cangkeling Roemah Koffie
Foto: detikcom/Diah Afrilian
Jakarta -

Sebuah keluarga petani asal Mandalagiri, Garut, sukses membudidayakan varietas Yellow Bourbon di kebunnya. Modal belajar otodidak, kini kopinya berharga tinggi.

Memiliki banyak dataran tinggi, beberapa wilayah di Indonesia atau pulau Jawa secara khusus, terdapat banyak kebun kopi. Sebagian besar di antaranya bakan masih dikelola secara tradisional ole keluarga petani.

Misalnya seperti di Gunung Mandalagiri, Garut, Jawa Barat, di mana masih terdapat banyak keluarga petani yang mengelola kebunnya sendiri. Seperti keluarga Abah Jujun yang dibantu oleh anaknya, Ipin dan Roby.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bermodal belajar secara otodidak, keluarga ini berhasil menambahkan nilai jual pada kopinya. Sampai akhirnya Yellow Bourbon Mandalagiri yang dimilikinya dilirik oleh kafe sekaligus roastery, Roemah Koffie.

Berikut kisah keluarga Abah Jujun yang sukses kembangkan kopi langka di Garut.

ADVERTISEMENT

Baca juga: Langka! Kopi Yellow Bourbon dari Garut Ini Dirawat Sejak 17 Tahun Lalu

Cing Cangkeling Roemah KoffieKeluarga Abah Jujun pertama kali menanam kopi pada 2009. Foto: detikcom/Diah Afrilian

Mulai Menanam Pada 2009

Roby Siswanda merupakan seorang anak dari keluarga petani kopi dari ayahnya yang bernama Abah Jujun. Keluarga ini tinggal di Gunung Mandalagiri, Garut.

Pada 2009, Abah Jujun mulai mencoba menanam kopi. Saat itu bibitnya hanya bermodalkan pohon-pohon kopi kecil yang tumbuh di bawah pohon kopi besar pada kebun-kebun di sekitarnya.

Abah Jujun sendiri saat itu tak mengetahui varietas kopi yang ditanam. Tujuannya tak lagi lain hanya merawat kopi-kopinya dan menjual ceri kopinya untuk keberlangsungan hidup keluarga.

Cing Cangkeling Roemah KoffiePohon kopi yang ada di kebunnya dikelola turun temurun hingga menghasilkan kopi terbaik. Foto: detikcom/Diah Afrilian

Dikelola Turun Temurun

Sejak mulai menanam pohon kopi, Abah Jujun melibatkan anak-anaknya yaitu Ipin dan Roby untuk membantu mengelola kebunnya. Ipin sendiri bercerita bahawa ayahnya tak memberikan ia sebagian kebun dengan percuma.

"Saya punya bagian kebun sendiri seperti sekarang itu bukan dikasih begitu saja. Ayah saya pernah memberi rintangan untuk mengelola kebun tersebut selama tiga tahun dan harus berhasil panen," ujarnya.

Begitu pula dengan Roby. Ia yang merupakan generasi Z, merasa penasaran untuk mengolah ceri kopi dari kebun ayahnya untuk menambah nilai jualnya.

Tetapi eksperimennya tak langsung diamini oleh ayahnya. Roby yang mencoba meminta 10 kilogram ceri kopi untuk diolah justru berujung disuruh membayar dengan harga yang sama seperti yang dijual pada tengkulak.

Namun didikan seperti itu yang rupanya membangun karakter tak pantang menyerah pada Ipin dan Roby. Roby bahkan mengaku bekerja serabutan demi mendapatkan uang dan membeli ceri kopi dari ayahnya.

Cing Cangkeling Roemah KoffieAnaknya, Roby Siswanda, punya andil besar dapat belahar proses pascapanen demi menambah daya jual kopi ayahnya. Foto: detikcom/Diah Afrilian

Roby Siswanda Belajar Processing

Setelah berhasil mendapatkan 10 kilogram ceri kopi dari kebun ayahnya, Roby mempelajarinya dengan serius. Ia mengenali bahwa selama ini varietas yang ada di kebun ayahnya ialah Yellow Bourbon.

Varietas ini merupakan salah satu varietas yang cukup langka dan varietas yang lebih tua dari kopi Yellow Caturra.

Bermodal ponsel dan internet, Roby Siswanda lantas mempelajari metode processing kopi. Kemudian ia memilih processing pascapanen berupa anaerob untuk mengolah ceri kopinya.

Proses anaerob punya proses yang lebih rinci dan panjang dibandingkan proses pascapanen lainnya, bahkan ia harus memastikan lingkungan fermentasi kopi benar-benar 0% oksigen.

Tetapi Roby sendiri punya alasan di balik metode proses pascapanen yang dipilih. Ia bertujuan untuk lebih menonjolkan karakter kopinya secara alami dan merasa proses anaerob lebih cocok.

Cing Cangkeling Roemah KoffieHingga akhirnya, kopinya diboyong ke Jakarta oleh Roemah Koffie dan diracik dalam berbagai sajian. Foto: detikcom/Diah Afrilian

Kopinya Kini Dilirik Kafe di Jakarta

Setelah berhasil dengan proses pasca panennya, Roby kemudian menjual kopi-kopi dari kebun ayahnya dengan harga yang lebi mahal lagi melalui proses pre-order via internet.

Dahulu, dari hasil penjualan ceri kopi keluarga ini hanya mendapat bayaran Rp7 ribu per kilogram, kini harganya sudah menjulang bahkan hingga lebih dari 100 kali lipat.

Roby tak hanya pandai memproses ceri kopi, ternyata ia juga punya resep sendiri untuk menyeduh biji kopinya. Roby menggunakan metode seduh manual brew dengan perbandingan 1:16 yang menggunakan 15 gram biji kopi dengan 230 mililiter air panas bersuhu 90 derajat celcius.

Hasilnya biji kopi Yellow Bourbon tersebut memiliki aroma brown sugar yang dominan, rasa manis mirip anggur dan buah persik. Sampai akhirnya kerja keras Roby dilirik oleh Roemah Koffie.

Sebanyak 300 kilogram biji kopi dari kebun Abah Jujun diboyong ke Jakarta dan disajikan di seluruh outlet Roemah Koffie. Diberi nama Cing Cangkeling, biji kopi tersebut akan dijual terbatas pada 18 September - 31 Oktober 2026 dengan harga Rp225 ribu per 250 gram.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Rasakan Kreasi Menu di Dunia Wonderland ala Mie Sedaap Ini!"
[Gambas:Video 20detik] (dfl/sob)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads