5 Makanan Tradisional yang Namanya Menipu, Sate Lalat hingga Bubur Sumsum

5 Makanan Tradisional yang Namanya Menipu, Sate Lalat hingga Bubur Sumsum

Diah Afrilian - detikFood
Rabu, 09 Sep 2026 16:00 WIB
5 Makanan Tradisional yang Namanya Menipu, Sate Lalat hingga Bubur Sumsum
Foto: Istimewa
Jakarta -

Sate lalat hingga bubur sumsum merupakan makanan tradisional yang namanya bikin salah sangka. Ternyata bahan dan asal-usul namanya tak seperti dugaan.

Nama makanan tradisional Indonesia kerap terdengar unik dan mengundang rasa penasaran. Bahkan, beberapa di antaranya bisa membuat orang salah menebak bahan yang digunakan.

Di balik nama yang nyeleneh, makanan tersebut ternyata punya cerita tersendiri. Ada yang terinspirasi dari bentuk, ukuran, waktu berjualan, hingga kemiripan tampilan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Karena itu, nama makanan tidak selalu menggambarkan bahan utama yang digunakan. Beberapa kuliner tradisional justru memiliki penamaan yang muncul dari kebiasaan masyarakat dan sejarah di baliknya.

Berikut ini 5 makanan tradisional yang namanya menipu bahannya:

5 Makanan Tradisional yang Namanya Menipu, Sate Lalat hingga Bubur SumsumSate Kalong dikenal dengan sebutan tersebut sebab kerap buka sore hingga malam hari. Foto: Istimewa

1. Sate Kalong

Sate kalong merupakan salah satu kuliner khas Cirebon yang memiliki nama cukup unik. Meski terdengar seperti menggunakan daging kalong atau kelelawar, bahan utamanya justru daging kerbau.

ADVERTISEMENT

Sate ini biasanya dibuat dari daging kerbau yang dipotong dan diolah dengan bumbu. Rasanya dikenal memiliki karakter manis, terutama pada versi sate kalong yang berbumbu manis.

Nama kalong ternyata tidak berkaitan dengan bahan pembuatannya. Sebutan tersebut muncul karena sate ini dahulu banyak dijajakan sore hingga malam hari.

2. Sate Lalat

Sate lalat menjadi salah satu kuliner khas Madura yang namanya cukup membuat penasaran. Jangan khawatir, sate ini sama sekali tidak menggunakan lalat sebagai bahan makanan.

Nama tersebut merujuk pada ukuran potongan daging yang sangat kecil. Potongannya dibuat mungil hingga dianggap menyerupai ukuran lalat.

Daging yang digunakan pun bukan serangga, melainkan bisa ayam, sapi, kambing, atau jenis daging lainnya. Potongan daging kemudian ditusuk, dibakar, dan disajikan bersama bumbu.


3. Nasi Kucing

Nasi kucing merupakan menu yang sangat populer di angkringan, terutama di Yogyakarta dan Solo. Namanya mungkin membuat orang membayangkan nasi yang disiapkan untuk hewan peliharaan.

Padahal, nasi kucing merupakan nasi dengan lauk sederhana dalam porsi yang sangat kecil. Isinya bisa berupa sambal, teri, ikan, atau lauk sederhana lainnya.

Nama kucing muncul karena porsinya yang sedikit dan dianggap seperti makanan untuk kucing. Karena ukurannya kecil, seseorang biasanya bisa menyantap lebih dari satu bungkus sekaligus.

5 Makanan Tradisional yang Namanya Menipu, Sate Lalat hingga Bubur SumsumBubur sumsum tidak menggunakan sumsum asli dari tulang. Foto: Istimewa

4. Bubur Sumsum

Bubur sumsum menjadi salah satu jajanan tradisional yang sering hadir sebagai menu manis. Namanya memang mengandung kata sumsum, tetapi bahan pembuatnya tidak berasal dari tulang.

Bubur ini umumnya dibuat dari tepung beras, santan, garam, dan daun pandan. Setelah matang, teksturnya lembut dan biasanya disiram kuah gula merah.

Penyebutan sumsum berkaitan dengan tampilannya yang putih dan teksturnya yang lembut. Karakter tersebut dianggap menyerupai sumsum tulang sehingga muncul nama bubur sumsum.

5. Kue Mata Kebo

Kue mata kebo juga memiliki nama yang bisa membuat orang salah menebak bahan. Kata kebo atau kerbau pada namanya bukan berarti kue tersebut dibuat menggunakan daging kerbau.

Dalam sejumlah daerah, mata kebo merupakan sebutan untuk jajanan tradisional dengan bahan dasar seperti tepung ketan. Kue ini juga dikenal dengan nama kue ku atau kue thok di beberapa wilayah.

Nama tersebut berkaitan dengan bentuk atau tampilan kue yang dianggap menyerupai mata kerbau. Namun, penyebutan mata kebo bisa berbeda makna dan jenisnya tergantung tradisi kuliner daerah.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Santai Bareng Keluarga di Rumah Makan dengan Suasana Perkampungan"
[Gambas:Video 20detik] (dfl/adr)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads