Wow! Makanan Khas Dayak Ini Pakai Kelelawar, Gimana Rasanya?

Wow! Makanan Khas Dayak Ini Pakai Kelelawar, Gimana Rasanya?

Riska Fitria - detikFood
Kamis, 03 Sep 2026 14:30 WIB
Bangamat khas Dayak. (dok Wonderful Indonesia, Kementerian Pariwisata RI)
Foto: Bangamat khas Dayak. (dok Wonderful Indonesia, Kementerian Pariwisata RI)
Jakarta -

Bukan ayam atau sapi, hidangan khas Dayak ini justru menggunakan kelelawar sebagai bahan utama. Bahkan hidangan ini dipercaya sebagai obat.

Indonesia punya beragam kuliner tradisional dengan bahan yang mungkin terdengar tak biasa bagi sebagian orang. Salah satunya bangamat dari Kalimantan.

Bukan terbuat dari daging ayam, sapi, atau kambing, hidangan ini justru dari kelelawar. Cara mengolahnya pun cukup unik dan berkaitan erat dengan kebiasaan masyarakat Dayak.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Masyarakat setempat juga menjadikan hidangan ini sebagai obat. Hingga kini, bangamat kerap disajikan dalam acara adat.

Dikutip dari Visit Indonesia (3/9) berikut fakta menariknya.

1. Bangamat, Kuliner Khas Dayak dari Kelelawar

Disebut Bisa Sembuhkan Asma, Daging Kelelawar Juga Bisa Bahayakan KesehatanIlustrasi daging kelelawar. Foto: Getty Images/iStockphoto/catinsyrup

Masyarakat Dayak punya beragam makanan khas yang menggunakan bahan tak biasa, salah satunya kelelawar. Hidangan berbahan kelelawar ini dikenal dengan nama bangamat atau paing.

ADVERTISEMENT

Bangamat merupakan kuliner tradisional Dayak Maanyan yang dibuat dari kelelawar besar jenis kalong. Jenis kelelawar yang digunakan adalah pemakan buah atau Pteropus vampyrus.

Berbeda dengan kelelawar pemakan serangga atau darah, kalong dipilih karena dianggap lebih bersih. Makanannya berupa buah-buahan sehingga rasanya juga dinilai lebih cocok untuk dikonsumsi.

2. Dulunya Dipercaya Jadi Obat

Konsumsi bangamat awalnya dipercaya masyarakat sebagai salah satu cara untuk mengatasi berbagai penyakit. Di antaranya asma, gatal-gatal, hingga penyakit kulit.

Masyarakat Dayak meyakini daging kelelawar memiliki khasiat tertentu untuk kesehatan. Namun, manfaat tersebut hingga kini belum terbukti secara ilmiah.

Karena itu, bangamat lebih tepat dilihat sebagai bagian dari tradisi kuliner masyarakat Dayak. Hidangan ini juga biasanya hanya disajikan pada acara adat atau momen tertentu.

3. Cara Mengolah Bangamat

Bangamat khas Dayak. (dok Wonderful Indonesia, Kementerian Pariwisata RI)Bangamat khas Dayak. (dok Wonderful Indonesia, Kementerian Pariwisata RI) Foto: Bangamat khas Dayak. (dok Wonderful Indonesia, Kementerian Pariwisata RI)

Sebelum dimasak, kelelawar harus dibersihkan terlebih dahulu. Bagian kuku, bulu, punggung, dan isi perut dibuang sebelum daging serta sayapnya diolah.

Daging kelelawar kemudian direbus sekitar satu jam hingga empuk. Setelah itu, singkong dimasukkan dan dimasak hingga teksturnya lunak.

Batang pisang muda lalu ditambahkan bersama bumbu seperti bawang putih, garam, dan merica. Terakhir, daun katuk dimasukkan sebelum panci ditutup dan api dimatikan.

4. Bukan Lauk Sehari-hari

Bangamat kini masih dikonsumsi masyarakat Dayak dalam acara adat atau momen khusus. Hidangan ini bukan lauk yang disantap sehari-hari dan cukup sulit ditemukan di warung makan.

Bangamat juga umumnya tidak diperjualbelikan karena dibuat untuk kebutuhan acara tertentu. Hal ini membuat hidangan tradisional tersebut semakin jarang ditemui di Kalimantan.

Meski menjadi bagian dari warisan kuliner, konsumsi kelelawar tetap perlu dilakukan secara bijak. Ada risiko zoonosis atau penularan penyakit dari hewan ke manusia yang perlu menjadi perhatian.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Santai Bareng Keluarga di Rumah Makan dengan Suasana Perkampungan"
[Gambas:Video 20detik] (raf/adr)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads