Dalam tradisi masyarakat Aceh, ada hidangan bernama kuah Beulangong yang selalu disajikan saat perayaan Maulid Nabi SAW. Hidangan ini sarat akan makna.
Maulid Nabi Muhammad SAW di Indonesia identik dengan berbagai tradisi yang sarat makna. Setiap daerah bahkan memiliki tradisi dengan filosofi yang mendalam.
Salah satunya di Aceh dengan hidangan kuah Beulangong. Di balik kelezatan makanan tersebut ada cerita unik yang menyertai.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikutip dari Acehbesarkab.go.id (4/12/24) berikut faktanya!
1. Diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda
Kuah Beulangong, hidangan khas Aceh yang disajikan saat Maulid Nabi Muhammad SAW. Foto: Acehbesarkab.go.id |
Kuah Beulangong merupakan kuliner khas Aceh Besar yang punya nilai budaya kuat. Hidangan ini resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia sejak 2018.
Kuah Beulangong biasanya hadir dalam acara keagamaan seperti Maulid Nabi Muhammad SAW. Hidangan ini juga disajikan saat kenduri, syukuran, resepsi, dan berbagai acara masyarakat.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Besar, Bahrul Jamil, menyebut pengakuan tersebut menjadi motivasi pelestarian. Kuah Beulangong diharapkan semakin dikenal hingga tingkat nasional dan internasional.
2. Dimasak dalam Kuali Besar
Nama Beulangong berasal dari kata belanga yang berarti kuali besar. Sesuai namanya, masakan ini biasanya dimasak dalam jumlah banyak hingga mencapai sekitar 300 porsi.
Bahan utamanya berupa daging sapi, kambing, atau kerbau yang dimasak bersama rempah khas Aceh. Nangka muda, pisang muda, hingga bagian dalam batang pisang juga bisa ditambahkan.
Perpaduan daging, rempah, dan bahan pelengkap membuat Kuah Beulangong punya cita rasa khas. Hidangan ini sekaligus mencerminkan tradisi memasak dalam jumlah besar untuk kebutuhan bersama.
3. Tradisi Sejak Abad ke-19
Tradisi memasak Kuah Beulangong disebut telah ada sejak abad ke-19. Foto: Aceh Tourism Travel |
Tradisi memasak Kuah Beulangong disebut telah ada sejak abad ke-19 atau bahkan lebih lama. Pengaruhnya dikaitkan dengan pedagang Gujarat, India, yang datang berdagang sekaligus menyebarkan Islam di Aceh.
Kuah Beulangong kemudian menjadi bagian dari berbagai tradisi masyarakat Aceh. Salah satunya Khanduri Blang, yakni kenduri sebagai bentuk syukuran menjelang musim tanam padi.
Dalam Khanduri Blang, masyarakat berkumpul dan berdoa agar hasil panen melimpah. Kuah Beulangong menjadi salah satu hidangan yang memperkuat tradisi kebersamaan tersebut.
Selain itu, hidangan ini juga menjadi bagian dari tradisi keagamaan dan kebersamaan masyarakat setempat. Karenanya hidangan ini kerap disajikan dalam tradisi Maulid Nabi SAW.
4. Dimasak Kaum Pria dan Penuh Makna
Proses memasak Kuah Beulangong unik karena secara tradisional dilakukan oleh kaum pria. Mereka memasaknya secara bergantian selama sekitar dua jam hingga hidangan matang.
Tradisi tersebut mencerminkan nilai gotong royong dan tanggung jawab dalam masyarakat Aceh. Proses memasak bersama juga menjadi ruang untuk mempererat hubungan antarwarga.
Bahrul Jamil menilai Kuah Beulangong bukan sekadar hidangan tradisional. Kuliner ini menjadi identitas budaya yang perlu terus diwariskan agar tetap hidup di tengah modernisasi.
Simak Video "Video: Rendang akan Diusulkan ke UNESCO"
[Gambas:Video 20detik] (raf/adr)



KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN