Ikut lomba masak 17 Agustus, wanita ini malah kalah karena hasil masakannya dinilai terlalu cantik, seperti hidangan di kafe. Begini kisahnya!
Hari Kemerdekaan Republik Indonesia selalu diwarnai dengan perlombaan seru. Salah satunya lomba masak yang kerap diikuti oleh masyarakat.
Lomba memasak dalam rangka menyambut HUT ke-81 RI biasanya menjadi ajang adu kreativitas warga.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, pengalaman berbeda dialami seorang wanita asal Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, yang justru kalah setelah menyajikan makanan dengan plating cantik bak hidangan di kafe.
Wanita tersebut adalah Olga Yuvenda yang membagikan pengalaman mengikuti lomba cipta menu makan siang melalui cuitan di Threads (14/8).
Tampilan juara 1 lomba masak 17 Agustusan. Foto: Thread/@olgayuvenda |
Ceritanya menjadi perhatian karena makanan yang dibuat bersama timnya tampak begitu rapi dan menarik, tetapi justru dinilai terlalu bagus untuk kategori masakan rumahan.
Kepada detikFood (15/8), Olga menceritakan lomba tersebut digelar oleh PKK Desa di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, pada Jumat (14/8/2026).
Pesertanya merupakan perwakilan dari masing-masing RT, mulai RT 1 hingga RT 10, meski hanya sembilan RT yang akhirnya mengikuti perlombaan.
Setiap tim terdiri dari empat orang dan mendapat anggaran Rp100.000 untuk membeli bahan makanan.
Ia mengikuti lomba bersama adik, ibu, dan tantenya karena mereka tinggal berdekatan dan telah disepakati warga untuk mewakili RT.
Tema lomba yang diberikan adalah cipta menu makan siang untuk lima orang anggota keluarga.
Menu yang dibuat harus memenuhi konsep gizi seimbang, mulai dari karbohidrat, protein hewani dan nabati, vitamin, hingga mineral. Hidangan juga wajib terdiri dari nasi, lauk, sayur, buah, dan minuman.
Tampilan masakan Olga saat ikut lomba 17 Agustusan. Foto: Thread/@olgayuvenda |
Olga dan tim kemudian menyajikan nasi gurih bunga telang sebagai sumber karbohidrat. Hidangan tersebut dilengkapi udang goreng tepung saus asam manis, rolade tahu telur kukus, tumis buncis wortel jamur, es markisa, serta buah pepaya.
"Kami menggunakan bahan yang mudah didapat, juga memanfaatkan beberapa hasil kebun di rumah seperti markisa, bunga telang, daun jeruk, pandan, daun salam, dan daun bawang," kata Olga.
Selain memperhatikan bahan yang mudah ditemukan, menu tersebut sengaja dibuat agar memenuhi kriteria gizi seimbang. Ada sumber karbohidrat, protein hewani dan nabati, serta sayuran dan buah dalam satu paket makan siang.
Penilaian dilakukan oleh sejumlah juri dari puskesmas, kecamatan, sekolah dasar, dan PLKB dengan beberapa aspek, yakni rasa, kesesuaian gizi seimbang, penyajian, serta ketepatan waktu.
Namun, hasil akhirnya justru di luar dugaan Olga dan tim. Mereka tidak menjadi pemenang karena salah satu koreksi yang diberikan panitia berkaitan dengan tampilan makanan yang dinilai terlalu cantik dan menyerupai hidangan di restoran atau kafe.
Lihat di Threads
"Alasan dari panitia karena plating terlalu bagus seperti di kafe, minumannya juga terlalu manis. Sebagai koreksi untuk kami, mungkin plating kami tidak seperti masakan rumahan pada umumnya," ujar Olga.
Padahal, tampilan cantik tersebut bukan tanpa alasan. Olga mengatakan adiknya pernah bersekolah di SMK jurusan boga sehingga memiliki pengetahuan mengenai penyajian makanan.
Mereka juga memang memiliki hobi memasak di rumah dan menjalankan usaha kecil di bidang bakery dan catering.
Untuk mencari inspirasi penyajian, mereka juga kerap melihat berbagai referensi makanan di TikTok. Tak heran jika makanan yang disajikan untuk lomba terlihat lebih rapi dan estetik dibandingkan sajian rumahan pada umumnya.
Meski akhirnya kalah, pengalaman tersebut justru menjadi cerita unik bagi Olga dan keluarganya. Olga menegaskan bahwa mereka tetap menghormati keputusan panitia.
"Aku juga menghargai keputusan juri dan ibu-ibu tetangga yang ikut," pungkasnya.



KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN