Wisatawan mancanegara ternyata mengonsumsi nasi lebih banyak dibandingkan warga Jepang selama berada di Negeri Sakura. Wisatawan Indonesia bahkan ada di posisi kedua. Ini faktanya!
Temuan ini terungkap dari data terbaru Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Jepang (MAFF) yang dirilis pada 27 Juli 2026.
Hasilnya menunjukkan konsumsi nasi di kalangan turis mancanegara jauh lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya, sekaligus memberi gambaran baru mengenai besarnya pengaruh sektor pariwisata terhadap kebutuhan beras di Jepang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dilansir dari SoraNews (30/07/2026), data tersebut diperoleh melalui survei terhadap wisatawan dari 14 negara dan wilayah. MAFF memperkirakan rata-rata wisatawan mancanegara mengonsumsi sekitar 570 gram nasi matang per hari selama berada di Jepang.
nasi putih Jepang Foto: Shutterstock/Getty Images |
Jumlah itu setara sekitar empat mangkuk nasi dan meningkat tajam dibanding estimasi sebelumnya yang hanya sekitar 350 gram atau 2,5 mangkuk per hari.
Dalam daftar negara dengan konsumsi nasi tertinggi di Jepang, ada Vietnam berada di posisi pertama dengan rata-rata 718 gram per hari. Sementara itu wisatawan asal Indonesia menyusul di posisi kedua dengan konsumsi 714 gram nasi, diikuti wisatawan dari Filipina sebanyak 695 gram dan Thailand 629 gram.
Sementara itu, wisatawan asal Amerika Serikat mengonsumsi rata-rata 565 gram per hari, wisatawan China 546 gram, dan Hong Kong menjadi yang terendah dalam survei dengan rata-rata 468 gram.
Sebagai perbandingan, warga lokal (warlok) Jepang, rata-rata hanya mengonsumsi sekitar 330 hingga 340 gram atau setara 1-2 mangkuk nasi matang setiap hari. Artinya, wisatawan asing menghabiskan sekitar 70% lebih banyak nasi dibanding penduduk lokal.
Onigiri Jepang. Foto: Getty Images/iStockphoto/kuppa_rock |
Menurut MAFF, tingginya konsumsi nasi ini tidak hanya dipengaruhi popularitas restoran sushi, tetapi juga kebiasaan wisatawan menikmati onigiri sebagai camilan.
Banyak turis mengonsumsi makanan berbahan nasi beberapa kali dalam sehari. Sebaliknya, masyarakat Jepang cenderung memperoleh karbohidrat dari sumber lain, seperti roti dan mie selain nasi.
Pembaruan data ini dilakukan setelah Jepang mengalami krisis pasokan beras pada 2024 yang dikenal sebagai "Reiwa Rice Riots". Selain dipicu hasil panen yang menurun akibat cuaca panas ekstrem, lonjakan jumlah wisatawan asing juga dinilai turut meningkatkan permintaan beras yang sebelumnya belum diperhitungkan.
Pemerintah Jepang menyatakan data terbaru ini akan menjadi dasar untuk memperkirakan kebutuhan beras secara lebih akurat pada masa mendatang.
Dengan memasukkan pola konsumsi nasi untuk wisatawan mancanegara ke dalam perhitungan, pemerintah berharap dapat menyesuaikan pasokan dan mengantisipasi potensi kelangkaan beras di kemudian hari.
(sob/adr)



KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN