5 Makanan Indonesia Lahir dari Kisah Pilu, Ada yang Berawal dari Kemiskinan

5 Makanan Indonesia Lahir dari Kisah Pilu, Ada yang Berawal dari Kemiskinan

Riska Fitria - detikFood
Kamis, 09 Jul 2026 17:00 WIB
Nikmat! Tengkleng Kepala Kambing dan Sate Kambing Racikan Haji Parto
Foto: Detikcom / Atiqa Rana
Jakarta -

Tak banyak yang tahu, beberapa makanan khas Indonesia lahir dari masa sulit. Makanan tersebut tercipta karena kemiskinan hingga saat masa penjajahan.

Di balik cita rasa khasnya, beberapa kuliner Indonesia ternyata menyimpan sejarah menyedihkan. Hidangan ini lahir dari masa penjajahan, kelaparan, hingga kemiskinan.

Keterbatasan bahan pangan memaksa masyarakat berkreasi dengan apa yang tersedia. Dari situlah lahir makanan sederhana yang kini justru menjadi kuliner legendaris.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tak sekadar mengenyangkan, makanan ini juga menjadi saksi perjuangan rakyat bertahan hidup. Kisah di baliknya membuat setiap suapan terasa lebih bermakna.

Berikut 5 makanan Indonesia yang memiliki sejarah kelam:

1. Sate Kere

ADVERTISEMENT
37 Tahun Berjualan Sate Kere di Pasar Beringharjo, Ini Perjuangan Mbah SuwarniIlustrasi sate kere. Foto: detikcom/Rifkianto Nugroho

Sate kere bukan sekadar kuliner tradisional khas Solo dan Yogyakarta. Di balik kelezatannya, makanan ini lahir dari masa sulit saat masyarakat kecil hidup serba kekurangan di era penjajahan Belanda.

Pada masa itu, daging sapi menjadi makanan mahal yang hanya dinikmati kalangan berada. Masyarakat biasa pun berkreasi memakai jeroan, gajih, hingga tempe gembus sebagai pengganti daging untuk dijadikan sate.

Nama 'sate kere' berasal dari kata 'kere' dalam bahasa Jawa yang berarti miskin. Meski berawal dari kisah kelam akibat kesenjangan sosial, kini sate kere justru menjadi kuliner legendaris yang banyak diburu pencinta makanan tradisional.

2. Tengkleng

Di balik semangkuk tengkleng yang gurih, tersimpan kisah pilu pada masa penjajahan Jepang. Hidangan khas Solo ini lahir dari perjuangan rakyat menghadapi kelangkaan pangan.

Kala itu, masyarakat kesulitan memperoleh bahan pangan, termasuk daging kambing. Mereka pun memanfaatkan tulang, kepala, dan jeroan kambing yang tersisa agar tetap bisa menyambung hidup.

Dari keterbatasan itulah lahir tengkleng dengan kuah encer dan isian tulang serta jeroan. Kini, makanan yang berawal dari perjuangan rakyat kecil itu justru menjadi ikon kuliner khas Solo.

3. Kerak Telor

Kerak TelorKerak Telor ilustrasi. Foto: Shutterstock

Siapa sangka kerak telor lahir dari masa yang tidak mudah? Makanan khas Betawi ini tercipta ketika masyarakat hidup berdampingan dengan keterbatasan pada era kolonial.

Kala itu, telur tergolong bahan makanan mewah yang tidak bisa dinikmati semua kalangan. Warga Betawi pun mencampurkan beras ketan dengan telur agar hidangan lebih terjangkau.

Mereka juga memanfaatkan bahan yang mudah didapat, seperti kelapa parut, ebi, garam, dan merica. Dari kreativitas di masa sulit, lahirlah kerak telor yang kini menjadi ikon kuliner Betawi.

4. Ampo

Ampo, camilan unik dari tanah liat khas Tuban, ternyata lahir dari sejarah yang menyedihkan. Tradisi ini bermula saat masyarakat menghadapi kelaparan pada masa kolonial Belanda.

Sistem tanam paksa membuat warga kesulitan memperoleh beras dan bahan pangan. Demi bertahan hidup, mereka mengolah tanah liat menjadi ampo yang kemudian dikonsumsi sehari-hari.

Lambat laun, ampo tak lagi sekadar pengganjal perut, tetapi menjadi bagian dari budaya Tuban. Kini camilan tanah liat itu dipercaya membantu pencernaan dan masih dibuat oleh segelintir perajin.

5. Tiwul

Tiwul di Wonogiri ada yang berwarna hitam dan cokelat. Perbedaan warna itu disebabkan adanya perbedaan teknis merendam gaplek. Tiwul cokelat hanya direndam sebentar. Foto diunggah Selasa (24/1/2023).Ilustrasi tiwul. Foto: Muhammad Aris Munandar/detikJateng

Di balik kesederhanaannya, nasi tiwul menyimpan kisah perjuangan yang mengharukan. Makanan ini lahir saat masyarakat menghadapi kelangkaan beras pada masa penjajahan.

Ketika beras sulit didapat, warga memanfaatkan singkong sebagai penggantinya. Singkong dikeringkan menjadi gaplek lalu diolah menjadi tiwul agar keluarga tetap bisa makan.

Dulu nasi tiwul identik dengan kemiskinan dan perjuangan hidup. Kini, makanan tradisional itu justru menjadi kuliner khas yang banyak dicari karena cita rasanya yang unik.

Halaman 2 dari 3


Simak Video "Indonesia Peringkat 6 Negara dengan Masakan Terbaik Dunia Versi Taste Atlas"
[Gambas:Video 20detik] (raf/adr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads