Bakpia selama ini dikenal sebagai kuliner khas Yogyakarta. Camilan ini punya sejarah panjang, merupakan hasil akulturasi budaya Tionghoa dan Jawa sejak 1940-an!
Salah satu kuliner ikonik dari Yogyakarta adalah bakpia. Di seluruh penjuru kota, kamu bisa menemukan penjual bakpia dengan berbagai merek menawarkan kue yang bagian dalamnya diberikan aneka isi.
Variasi bakpia belakangan semakin beragam. Teksturnya ada yang super lembut hingga varian isinya yang semakin modern.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jika mengulik lebih dalam, bakpia bukan sekadar camilan tradisional saja, melainkan camilan dengan nilai sejarah panjang. Ini juga termasuk kuliner yang lahir dari hasil akulturasi budaya.
Berikut 5 fakta menarik tentang sejarah bakpia yang ikonik:
1. Akulturasi Budaya Tionghoa dan Jawa
Konon bakpia sudah ada sejak 1930 di China, kemudian dibawa oleh perantau Tionghoa bernama Kwik Sun Kwok masuk ke Indonesia. Perantau itu kemudian menyewa tempat milik Niti Gurnito di Kampung Suryowijayan, Yogyakarta untuk memulai usaha, seperti dikutip dari situs Dinas Kebudayaan Yogyakarta (7/7/2026).
Usaha bakpia berawal dari 1940-an dan sejak saat itulah kue tersebut merajai dunia kuliner Yogyakarta. Usaha yang dirintis Kwik Sun Kwok itu lalu diteruskan oleh Niti dan berkembang pesat. Bakpia Tamansari terkenal pada masa itu yang kemudian dikenal seabgai Bakpia Niti Gurnito.
2. Penyesuaian Variasi Bakpia Halal
Bakpia merupakan sebutan dari dialek Hokkian yang aslinya berbunyi tou luk pia. Kue itu secara harfiah memiliki arti kue atau roti yang diberikan isian daging.
Pada awalnya, bakpia juga dibuat dengan olesan minyak babi. Namun, kini tentunya telah disesuaikan agar lebih banyak orang yang dapat mengonsumsinya, apalagi masyarakat Yogyakarta mayoritas beragama Islam.
3. Lahirnya Bakpia Pathuk
Selain Bakpia Tamansari, Bakpia Pathuk juga yang terkenal di Yogyakarta. Ini merupakan rintisan usaha milik Liem Bok Sing, kerabat dari Kwik Sun Kwok yang mempelajari pembuatan bakpia.
Usaha bakpia yang dirintis oleh Liem Bok Sing ini berjalan sejak 1948. Setelah itu, pada 1955 keluarga dari Liem Bok Sing pindah ke kawasan Pathuk yang tepatnya di Jalan Aipda KS Tubun No. 75 dan melanjutkan produksinya di sana.
Sejak itulah, nama Bakpia Pathuk merajai usaha bakpia di Yogyakarta. Kampung Pathuk ini juga dipenuhi pengusaha bakpia dan untuk membedakannya mereka menggunakan angka yang berasal dari nomor rumah tempat produksi mereka. Di antaranya seperti Bakpia Pathok 25, Bakpia Patuk 75, dan lainnya.
4. Variasi Bakpia Dulu Vs Sekarang
Bakpia yang asli hanya terdiri atas satu varian saja, yaitu kacang hijau tumbuk. Rasanya tak begitu manis, tapi cukup berserat.
Untuk karakteristik kulit bakpia sendiri juga ada yang kering dan basah. Lalu, seiring berkembangnya zaman variasi bakpia mulai beragam. Di antaranya muncul varian cokelat, keju, durian, hingga variasi isi kekinian.
Kreasi bakpia zaman sekarang juga semakin beragam. Beberapa di antaranya menawarkan bakpia dengan tekstur yang super lembut dengan kulit tipis. Lalu, ada juga bakpia kukus yang mirip bolu dan ini sangat populer di Yogyakarta sebagai oleh-oleh.
5. Jadi Oleh-oleh Ikonik Yogyakarta
Awalnya bakpia hanya diproduksi untuk camilan atau jajanan tradisional, tapi kini bakpia menjelma menjadi makanan ikonik di Yogyakarta. Bakpia juga sangat dikenal luas dan selalu diburu untuk oleh-oleh para wisatawan.
Di area wisatawan yang ramai seperti Malioboro mudah sekali untuk menemukan bakpia. Mulai dari Bakphia Pathok 25, Bakpia Mutiara, Bakpiaku, Bakpia Juwara Satoe, hingga Bakpia Kukus Tugu Jogja bisa kamu temukan di sana.
Simak Video "Main ke Malioboro, IShowSpeed Sempat Cicipi Jamu dan Bakpia"
[Gambas:Video 20detik] (yms/adr)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN