Netizen Malaysia ramai-ramai berdiskusi perihal harga makanan. Pasalnya banyak yang anggap pastry di kafe seharga Rp 65 ribu biasa saja, sedangkan makanan kampung dengan harga sama dibilang mahal.
Harga makanan di berbagai negara memang kini banyak yang naik. Begitu juga di Malaysia, di mana harga-harga makanan mulai dari skala kaki lima, restoran, sampai kafe menjadi lebih mahal. Kondisi peningkatan harga ini kerap membuat banyak warga lokal protes, sekalipun di sisi lain banyak juga yang menganggapnya wajar.
Namun, lucunya beberapa warga biasanya protes ketika makanan-makanan lokal atau kampung yang naik harga. Sedangkan mereka menganggap wajar harga kue atau pastry di kafe yang sebenarnya sama-sama mahal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kontras ini disoroti dalam sebuah unggahan Threads baru-baru ini. Dilansir dari thesun.my (23/6), seorang pengguna Threads mempertanyakan mengapa banyak pelanggan bersedia menghabiskan uang RM 15 atau sekitar Rp 65 ribuan untuk satu buah croissant di kafe. Namun, pelanggan bereaksi berbeda ketika makanan bergaya kampung punya harga sama.
Unggahan tersebut tidak merujuk pada restoran tertentu. Netizen ini hanya ingin berdiskusi secara luas dengan yang lain tentang persepsi konsumen dan penilaian dalam industri makanan akan hal tersebut.
Croissant atau pastry di kafe seharga Rp 65 ribu dianggap biasa saja harganya. Foto: PEXELS / iStock |
Dalam unggahannya, ia berkomentar, "Mengapa ketika hidangan ala kampung atau masakan Melayu dijual dengan harga sedikit lebih tinggi,orang-orang mengeluh karena mahal? Namun ketika mereka duduk di kafe dan membeli kue atau croissant seharga RM 15, mereka membayarnya dengan senyuman?"
Unggahnnya ramai dibanjiri komentar netizen lain. Beberapa berpendapat bahwa penetapan harga makanan seperti ini dipengaruhi oleh faktor-faktor lain, di luar bahan-bahan yang digunakan.
Beberapa netizen menyarankan agar pengguna ini membandingkannya dengan budaya yang diterapkan secara global di mana harga makanan impor memang seringkali lebih mahal dan dianggap premium di pasar lokal.
Netizen lain berpendapat dengan merujuk pada faktor aksesibilitas. Mereka menganggap orang Malaysia mungkin lebih bersedia membayar untuk makanan asing atau makanan ala kafe karena citra merek dan gaya hidup yang dirasakan, tetapi tetap berharap hidangan tradisional dijual dengan harga terjangkau.
Ada juga yang menjelaskan jika penetapan harga di kafe seringkali tidak hanya dikaitkan dengan makanan yang dijual, tetapi juga suasana kafe dan pengalaman sosialnya.
Namun, nasi lemak atau makanan lokal yang dijual dengan harga setara sama croissant di kafe seringkali dianggap mahal. Foto: PEXELS / iStock |
"Mereka senang membayar RM15 di kafe karena mereka menikmati suasananya dan mendapatkan foto yang bagus untuk Instagram," ujar netizen tersebut.
Netizen lain menambahkan bahwa persepsi pelanggan dibentuk oleh presentasi, merek, ekslusivitas,dan pengaruh sosial, bukan hanya bagaimana bahan dan persiapan makanan tersebut.
Ada juga yang mempertimbangkan terkait masalah yang kepraktisan. Menurut netizen ini, warga Malaysia biasa memasak hidangan tradisional di rumah, sehingga kenaikan harga menjadi lebih sulit diterima.
Sedangkan netizen lain menggambarkan masalah ini sebagai perbedaan antara makanan pokok dan makanan mewah, dengan alasan bahwa makanan pokok menghadapi pengawasan harga yang lebih ketat karena lebih sering dikonsumsi.
(aqr/adr)



KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN