Cup mie instan selama ini menjadi limbah yang sulit ditangani. Namun baru-baru ini pemerintah Korea Selatan punya inisiatif ramah lingkungan berupa metode pengolahan cup mie instan jadi bahan baku plastik.
Mie instan cup digemari karena praktis dibuat dan dinikmati. Namun dari sisi lingkungan, sampah cup bekas mie instan tersebut kerap menimbulkan masalah karena berakhir dibakar atau menggunung di tempat pembuangan sampah.
Untuk mengatasinya, pemerintah Korea Selatan sekarang punya solusi. Sampah cup mie instan itu diolah menjadi bahan baku berharga untuk industri petrokimia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikutip dari The Korea Times (1/6), Kementerian Lingkungan Hidup Korea Selatan, mengungkap pihaknya memperluas inisiatif daur ulang kimia nasional yang menggunakan teknologi dekomposisi termal canggih untuk menguraikan kertas polistirena, yang biasa dikenal sebagai PSP. Kemudian PSP diubah menjadi nafta, bahan dasar untuk plastik baru.
Inisiatif ini juga menandai pergeseran signifikan dari daur ulang mekanis yang selama ini hanya melelehkan dan membentuk kembali plastik. Produk yang dihasilkan memiliki kualitas rendah dan penggunaannya juga terbatas untuk barang-barang bernilai rendah.
Dengan program perluasan ini, limbah PSP yang dikumpulkan akan terkena panas tinggi tanpa adanya oksigen, suatu proses yang dikenal sebagai pirolisis. Hal ini mengubah plastik padat menjadi minyak pirolisis cair, yang kemudian disuling menjadi nafta.
Para pejabat mengatakan program ini secara efektif mengatasi masalah yang selama ini dihadapi, yaitu beberapa bahan sebelumnya dianggap sebagai sampah yang tidak dapat didaur ulang.
Inisiatif ini mengikuti uji coba regional yang dilakukan tahun lalu, yang berhasil mengolah sekitar 15,8 ton limbah PSP.
Untuk memberi insentif kepada sektor swasta agar meningkatkan operasinya, Kementerian Lingkungan Hidup Korea Selatan memanfaatkan sistem tanggung jawab produsen yang diperluas, yang secara hukum mewajibkan produsen dan importir untuk mengelola siklus hidup kemasan mereka.
Perusahaan logistik dan kimia yang berpartisipasi akan menerima subsidi pemerintah pada tahap pengumpulan awal dan tahap akhir dekomposisi termal.
"Perluasan ini mengatasi keterbatasan teknis yang sudah berlangsung lama dalam mendaur ulang polistiren yang terkontaminasi," kata Kim Go-eung, direktur divisi sirkulasi sumber daya di kementerian. "Ini akan membantu mengubah limbah bernilai rendah menjadi sumber daya kimia bernilai tinggi dan mempercepat transisi menuju ekonomi sirkular," tutupnya.
(adr/adr)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN