Penelitian tentang kehidupan masa lalu tidak hanya mengungkap artefak atau fosil. Tetapi juga mikroorganisme yang pernah hidup berdampingan dengan manusia ribuan tahun silam.
Temuan tersebut tak jarang membuka peluang baru dalam bidang mikrobiologi, arkeologi, dan ilmu pangan. Seperti yang baru-baru ini dilakukan oleh kelompok peneliti yang melakukan eksperimen terbarunya.
Dilansir dari Smithsonian Magazine, (4/6/2026), sekelompok peneliti dari Institute for Mummy Studies at Eurac Research melakukan uji coba tak biasa dari tubuh mumi. Mumi tersebut diidentifikasi sebagai "Γtzi the Iceman."
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hasil sebuah eksperimen kelompok peneliti, ada sourdough yang dibuat dari ragi sebuah mumi. Foto: Getty Images/muratkoc |
Γtzi adalah mumi berusia sekitar 5.300 tahun yang ditemukan oleh dua pendaki Jerman pada 1991 di Pegunungan Alpen, dekat perbatasan Italia dan Austria. Tubuhnya terkubur dalam es selama ribuan tahun dengan kondisi yang sangat terjaga.
Melalui penelitian terhadap mumi tersebut diketahui bahwa mikroorganisme tertentu ternyata mampu bertahan jauh lebih lama dari yang diperkirakan. Bahkan sebagian ragi yang ditemukan di tubuh Γtzi masih dapat dibudidayakan dan digunakan dalam proses fermentasi modern.
Dalam studi yang diterbitkan di jurnal Microbiome, para peneliti dari Eurac Research Institute di Italia memeriksa mikrobioma yang terdapat pada kulit, usus, dan cairan yang berasal dari tubuh Γtzi. Mereka menemukan sejumlah mikroorganisme yang masih aktif secara biologis.
"Kami ingin menindaklanjuti hal ini lebih lanjut dan melibatkan tim peneliti khusus dari sektor pangan dalam prosesnya," ujar Mohamed Sarhan selaku ahli mikrobiologi dari Institut for Mummy Studies at Eurach Research.
Penemuan tersebut masih dikembangkan dengan harapan memberikan dampak pada inovasi pangan. Foto: Smithsonian Magazine |
Setelah berhasil mengisolasi dan mengembangbiakkan ragi tersebut selama beberapa bulan, para ilmuwan mencoba menggunakannya untuk membuat starter sourdough. Percobaan itu ternyata berhasil.
Sarhan menggambarkan hasil akhirnya sebagai sourdough yang "sangat, sangat enak". Roti yang dihasilkan memiliki kualitas fermentasi yang baik dan membuktikan bahwa mikroorganisme kuno tersebut masih memiliki kemampuan untuk proses pembuatan makanan modern.
Analisis terhadap isi usus Γtzi menunjukkan keberadaan bakteri yang kini semakin jarang ditemukan pada masyarakat modern. Temuan tersebut mendukung teori bahwa pola makan tradisional yang kaya serat dan biji-bijian utuh menghasilkan keragaman mikroba yang lebih tinggi dibandingkan pola makan modern.
Kesuksesan membuat sourdough dari ragi yang ditemukan pada tubuh Γtzi juga memunculkan ide eksperimen lain. Tim peneliti mengaku tertarik untuk mencoba menggunakan ragi yang sama dalam pembuatan bir.



KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN