Bukan Kaldu, Soto Khas Karo Ini Pakai Sari Rumput dari Perut Sapi

Bukan Kaldu, Soto Khas Karo Ini Pakai Sari Rumput dari Perut Sapi

Riska Fitria - detikFood
Minggu, 31 Mei 2026 12:00 WIB
Pagit-pagit khas Karo
Foto: Instagram/@Kemahen_art
Jakarta -

Bukan dari kuah kaldu, soto khas Karo, Sumatera Utara ini menggunakan sari pati rumput dari lambung sapi sebagai kuahnya. Ini faktanya!

Indonesia punya banyak kuliner unik dengan bahan tak biasa dari berbagai daerah. Salah satunya pagit-pagit khas Suku Karo di Sumatera Utara.

Makanan ini dikenal karena memakai isi perut sapi atau kerbau yang berisi rumput setengah tercerna. Meski ekstrem, pagit-pagit jadi hidangan favorit masyarakat Karo.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rasa pahit dan aroma khasnya membuat pagit-pagit sulit dilupakan. Kuliner tradisional ini juga kerap hadir dalam pesta adat dan acara keluarga.

Dikutip dari berbagai sumber, berikut fakta tentang pagit-pagit:

1. Kuliner Ekstrem Khas Tanah Karo

Pagit-pagit khas KaroPagit-pagit khas Karo Foto: Instagram/@penoliasurbakti

Pagit-pagit merupakan makanan khas Suku Karo di Sumatera Utara. Kuliner ini dikenal karena bahan utamanya yang tergolong ekstrem.

ADVERTISEMENT

Hidangan ini dibuat dari isi perut sapi atau kerbau yang berisi rumput setengah tercerna. Bagian tersebut kemudian diolah menjadi kuah bercita rasa khas.

Bagi masyarakat Karo, pagit-pagit bukan makanan aneh. Hidangan ini justru dianggap comfort food yang sering disajikan saat acara besar.

2. Arti Nama Pagit-pagit

Dikutip dari Disbudparekraf Sumut, nama pagit-pagit berasal dari bahasa Karo yang berarti pahit. Nama itu merujuk pada rasa alami dari bahan utamanya.

Rasa pahit muncul dari rumput yang sudah setengah dicerna di lambung sapi. Meski pahit, banyak orang menyukai cita rasanya yang unik.

Selain disebut pagit-pagit, kuliner ini juga dikenal dengan nama terites. Penyebutannya berbeda tergantung daerah dan dialek lokal.

3. Proses Pembuatan yang Unik

Pagit-pagit khas KaroPagit-pagit khas Karo Foto: Instagram/Coklatkita

Pembuatan pagit-pagit dimulai dari sapi yang diberi makan rumput sebelum disembelih. Rumput di lambung kemudian diambil dan dibersihkan hati-hati.

Rumput tersebut dihaluskan lalu diperas untuk menghasilkan cairan hijau kecokelatan. Cairan itu direbus selama 3 hingga 6 jam.

Kuah kemudian dimasak bersama santan dan rempah khas Karo dan dijadikan hidangan soto. Biasanya ditambah daging, daun singkong, dan rimbang agar rasanya makin nikmat.

4. Punya Aroma dan Rasa Khas

Pagit-pagit memiliki aroma kuat yang cukup tajam bagi sebagian orang. Karena itu, beberapa orang menambahkan susu kental manis saat merebusnya.

Tambahan susu dipercaya bisa mengurangi bau amis dari isi perut sapi. Setelah dimasak lama, aroma kuah jadi lebih lembut dan gurih.

Cita rasanya dikenal pahit, gurih, dan kaya rempah. Sensasi rasanya membuat banyak orang penasaran untuk mencoba.

5. Pernah Bikin Misionaris Belanda Mual

Pagit-pagit khas KaroPagit-pagit khas Karo Foto: Instagram/@misnartimeimaria

Kuliner ini pernah diceritakan oleh misionaris Belanda bernama Hendrik Cornelis Kruyt. Ia datang ke Tanah Karo pada tahun 1890.

Saat menghadiri pesta adat, Kruyt melihat proses pembuatan pagit-pagit langsung. Ia mengaku merasa mual melihat isi lambung kerbau diolah jadi makanan.

Meski merasa jijik, Kruyt tetap berusaha tenang di depan warga. Pengalamannya itu kemudian ditulis ulang dalam buku sejarah kolonial Belanda berjudul 'The Early Years of a Dutch Colonial Mission: The Karo Field'.

Halaman 2 dari 3
(raf/adr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads