Selama Ini Salah, Ternyata Daging Kurban Tak Cocok Langsung Disate!

Sajian Lezat Idul Adha 2026

Selama Ini Salah, Ternyata Daging Kurban Tak Cocok Langsung Disate!

Andi Annisa Dwi R - detikFood
Rabu, 27 Mei 2026 12:00 WIB
Sate kambing keroncong Jatinegara
Foto: Detikcom / Atiqa Rana
Jakarta -

Usai dapat jatah daging kurban, banyak orang langsung semangat mengolahnya jadi sate. Namun, ternyata chef tak merekomendasikan olahan sate! Kenapa ya?

Daging kurban bisa diolah menjadi beragam hidangan nikmat, terutama pakai bumbu tradisional, seperti gule, tongseng, dan gulai. Sementara untuk olahan praktis, biasanya jatuh pada sate.

Baik daging kambing maupun daging sapi, sama-sama cocok diolah jadi sate. Daging cukup dipotong kecil-kecil, disusun di tusukan, diberi bumbu, lalu dibakar sampai matang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, ternyata mengolah daging kurban sebagai sate, bukanlah hal yang disarankan chef. Dalam wawancara bersama tim detikcom (7/6/2025), chef Stefu Santoso, yang handal mengolah daging mengungkap alasannya.

"Daging kurban sebenarnya tidak boleh langsung dimasak setelah dibagikan. Karena daging yang baru dipotong atau secara logika dikatakan masih terlalu segar, dia akan mempunyai tingkat kekenyalan yang sangat tinggi," tutur Executive Chef Aprez Catering by Amuz Group ini.

ADVERTISEMENT

Chef Stefu menambahkan kalau daging kurban dibuat sate pasti akan alot. "Jadi kesalahan utamanya adalah daging kurban tidak bisa dipakai untuk langsung teknik bakar," ujarnya.

Kalau dibikin gulai, justru tidak masalah. Chef Stefu menjelaskan, "Karena proses wet cooking itu akan membuat daging menjadi lebih lembut. Serat-serat yang ada di dalam daging akan dihancurkan melalui proses masak yang cukup lama."

Untuk diketahui, proses perebusan daging, seperti ketika membuat gulai, tongseng, maupun semur, akan memungkinkan serat-serat daging hancur. Efeknya, daging menjadi empuk dan lembut.

"Kalau daging kurban itu langsung dijadikan sate, sudah pasti alot. Jenis daging ini butuh waktu atau proses yang namanya pelayuan. Kalau pada kambing, jangka waktunya 18 hari sebenarnya baru bisa dikonsumsi," tutup chef Stefu.

Sementara untuk sapi yang merupakan binatang lebih besar dari kambing, dagingnya butuh waktu pelayuan yang lebih lama lagi.

(adr/adr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads