Apa Itu Nasi Jinggo? Kuliner Legendaris Bali yang Diciptakan Men Jinggo

Apa Itu Nasi Jinggo? Kuliner Legendaris Bali yang Diciptakan Men Jinggo

Atiqa Rana - detikFood
Minggu, 10 Mei 2026 15:04 WIB
Nasi jinggo
Foto: Getty Images/Erni Maier
Jakarta -

Nasi jinggo merupakan kuliner khas Bali yang tak kalah populer. Makanan ini termasuk legendaris, diciptakan oleh sosok Men Jinggo sekitar tahun 1970-1980-an.

Bali dikenal dengan ragam kulinernya yang kaya rempah, beraroma tajam, dan memakai bumbu base genep yang terdiri dari 17 jenis rempah.

Hidangan utama khas Bali meliputi nasi campur, lawar, ayam betutu, hingga babi guling. Namun, masakan sederhana, seperti nasi jinggo juga tidak kalah punya cita rasa mengesankan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meskipun dikenal sebagai sajian ekonomis, nasi jinggo tetap populer dan digemari banyak orang, terutama masyarakat Bali. Nasi jinggo sering dijual sebagai jajanan kaki lima untuk sarapan atau makan malam cepat.

Sebungkus nasi jinggo dibanderol dengan harga yang sangat murah tetapi isiannya komplet, ada nasi serta berbagai macam lauk pauk.

ADVERTISEMENT

Di balik popularitasnya, nasi jinggo memiliki sejarah panjang. Hidangan ini diciptakan oleh sosok Men Jinggo, ibunda dari mantan presiden ICA (Indonesian Chef Association), Henry Alexie Bloem.

Dirangkum dari beberapa sumber, berikut fakta nasi jinggo hingga sejarahnya.

1. Awalnya menu sarapan untuk pekerja pelabuhan

nasi jinggo denpasarNasi jinggo awalnya dibeli oleh beberapa orang yang bekerja di pelabuhan. Foto: detikfood

Sejarah nasi jinggo di Bali memang masih simpang-siur. Namun, umumnya dikenal sebagai makanan yang diciptakan oleh sosok Men Jinggo.

Dilansir dari indonesianchefassociation.com (16/4/2021), chef Henry Alexie Bloem bercerita jika pencetus pertamanya adalah ibunya sendiri yang dikenal sebagai Men Jinggo.

Menurut chef tersebut, pada tahun 1970-an, sang ibu mulai menjual nasi bungkus dengan tiga pilihan lauk, yakni ayam, daging sapi dan daging babi.

Ibunya mulai memasak di pukul 02.00 oagi dan sekitar pukul 06.00 WITA, makanan ini sudah matang. Nasi tersebut mulai dijual pukul 07.00 pagi di sekitar Pelabuhan Benoa.

Awalnya makanan ini ditujukkan untuk para pekerja sekitar pelabuhan, seperti sopir-sopir mobil tangki, para pekerja pelabuhan, dan para pemancing yang ingin mengisi perut di pagi hari.

Saat itu nasi Men Djenggo (nasi jinggo) hanya dijual sangat murah, di bawah Rp 70-80 perak per bungkus. Henry mengungkap dulu ibunya rata-rata membuat 300 sampai 500 bungkus nasi jinggo per hari.

Bahkan, sering menerima pesanan dalam jumlah besar, seperti 1000 bungkus dari kapal pesiar yang berlabuh di pelabuhan Benoa saat itu.

2. Asal-usul nama nasi jinggo

Nasi jinggoNasi jinggo dinamakan dari nyanyian suami Men Jinggo kepada anaknya. Foto: site news/Instagram

Ibu chef Henry Bloem menjual nasi bungkus ini tanpa ada branding atau stiker. Tetapi sudah dikenal dengan sebutan 'nasi bungkus meme jinggo' yang artinya nasi bungkus ibunya jinggo.

Nama 'jinggo' sendiri diambil dari nama panggilan chef Henry Bloem. Dulunya, ayah dari chef Henry Alexie Bloem disebut-sebut sangat suka nonton film koboi. Film 'Django' menjadi film koboi terpopuler di zaman tersebut.

Ayahnya lalu sering menyertakan kata-kata Django dalam nyanyian untuk 'menina bobokkan' chef Henry. Saking seringnya beliau bernyanyi, orang-orang rumah dan tetangga akhirnya memanggil chef Bloem dengan panggilan Jinggo.

Diakuinya hingga dirinya dewasa, saat ia pulang ke rumah, ibunya juga tetap dipanggil demikian.

3. Jual nasi bungkus sederhana lebih dari 10 tahun

Men jinggo menjual nasi bungkus murah meriah ini sampai sekitar tahun 1982. Ia berhenti karena harus mengabdi dalam ajaran agama Hindu yang membuatnya perlu mengurangi kegiatan bisnisnya, salah satunya berjualan.

Awalnya, ibu chef Henry menolak. Namun, itu merupakan sebuah wahyu atau wangsit yang harus dijalankan.

Tahun 1984-1985, nasi jinggo pun mulai banyak dijual dengan pilihan lauk yang semakin bervariasi.

4. Sekitar tahun 1980-an mulai dijual di pasar

Nasi jinggo mulai populer di Bali sekitar tahun 1980-an. Nasi bungkus ini banyak bermunculan di sekitar Pasar Kumbasari, Denpasar.

Dilansir dari rri.co.id (2/10/2024), pasar yang buka 24 jam tersebut menjadi tempat strategis bagi para pedagang nasi jinggo untuk menjajakan dagangannya, terutama bagi para pekerja malam dan pengendara yang mencari makanan ringan.

Nasi jinggo juga bukan sekadar makanan yang praktis dan mengenyangkan perut. Nasi ini sering disajikan pada acara-acara adat dan keagamaan, sebagai simbol keramahtamahan masyarakat Bali.

Seiring berjalannya waktu, nasi jinggo terus mengalami perkembangan. Dari awalnya hanya berisi nasi dan lauk pauk sederhana, kini hadir dalam berbagai inovasi yang membuatnya semakin kaya rasa.

Kemasannya juga turut berubah. Awalnya nasi ini dibungkus dengan daun pisang, tetapi kini banyak yang menjualnya dengan kertas minyak, bahkan kotak dan styrofoam.

5. Penyajian nasi jinggo khas Bali

Nasi jinggoNasi jinggo kini sudah semakin variatif dengan isian beragam. Foto: Getty Images/Erni Maier

Seporsi nasi jinggo terdiri dari nasi, lauk pauk, serta sambal. Menurut buku berjudul Makanan Tradisional Indonesia Seri 2: Makanan Tradisional yang disusun oleh Umar Santoso, Murdijati Gardjito, Eni Harmayani (2019: 247), isiannya ada sekepal nasi, ayam susut, potongan tempe kecil-kecil, mie goreng, serundeng, dan sambal.

Nasi beserta lauk pauk tersebut lalu dibungkus dengan daun pisang membentuk kerucut atau piramida. Biasanya lauk yang disajikan porsinya tidak banyak tetapi jenisnya beragam.

Kini variasi isian nasi jinggo semakin beragam. Tidak hanya berlauk olahan ayam atau daging babi, tetapi ada juga yang disajikan dengan ikan laut, daging sapi, babi kecap, sampai telur.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Kuah Unik Soto Arab Betawi dan Pelepas Dahaga Glek & Go"
[Gambas:Video 20detik]
(aqr/adr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads