Harga Beras di Jepang Mahal, Konsumsi Nasi Langsung Turun Drastis!

Harga Beras di Jepang Mahal, Konsumsi Nasi Langsung Turun Drastis!

Sonia Basoni - detikFood
Jumat, 08 Mei 2026 15:30 WIB
Wow! Resto Buffet Terbesar di Dunia Punya 150 Menu dan Air Mancur Lobster
Foto: Site News
Jakarta -

Selama berabad-abad, nasi menjadi makanan utama di Jepang. Namun, beberapa tahun belakangan, nasi justru mulai ditinggalkan karena harganya yang mahal.

Lonjakan harga beras di Jepang dalam beberapa tahun terakhir mulai memicu perubahan besar pada pola konsumsi nasi di masyarakat.

Jika sebelumnya nasi menjadi makanan pokok yang hampir selalu hadir di meja makan, kini banyak konsumen hingga pelaku usaha kuliner memilih mengurangi penggunaan beras karena harganya dinilai terlalu mahal. Dampaknya, jutaan ton stok beras lokal justru menumpuk di gudang penyimpanan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dilansir dari SoraNews24 (07/05/2026), berdasarkan data terbaru dari Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Jepang, hingga akhir Maret terdapat sekitar 2,7 juta metrik ton beras yang masih disimpan oleh pedagang grosir.

ADVERTISEMENT
Wow! Resto Buffet Terbesar di Dunia Punya 150 Menu dan Air Mancur LobsterWow! Resto Buffet Terbesar di Dunia Punya 150 Menu dan Air Mancur Lobster Foto: Site News

Angka tersebut naik hampir 54% dibanding periode yang sama tahun lalu. Jumlah itu juga menjadi yang tertinggi sejak 2015 dan termasuk salah satu rekor terbesar sejak 2009.

Namun, yang paling mengejutkan adalah stok beras yang belum terjual tersebut setara dengan sekitar 39% - 40% dari total kebutuhan domestik Jepang dalam setahun. Persentase itu menjadi yang tertinggi sejak pemerintah mulai mencatat data persediaan beras nasional.

Peningkatan stok ini dipicu beberapa faktor. Salah satunya karena hasil panen beras pada musim gugur 2025 lebih besar dibanding tahun sebelumnya. Namun, faktor terbesar justru datang dari penurunan permintaan masyarakat.

Harga beras di Jepang diketahui melonjak tajam dalam beberapa tahun terakhir. Pada masa akhir pandemi Covid-19, beras lokal kemasan 5 kilogram masih mudah ditemukan dengan harga sekitar 2.000 yen atau sekitar Rp 220 ribu. Kini, harga beras populer di supermarket Jepang banyak yang menembus lebih dari 4.000 yen atau sekitar Rp 445 ribu.

Wow! Resto Buffet Terbesar di Dunia Punya 150 Menu dan Air Mancur LobsterWow! Resto Buffet Terbesar di Dunia Punya 150 Menu dan Air Mancur Lobster Foto: Site News

Kenaikan harga tersebut membuat banyak warga mulai mengubah kebiasaan makan mereka. Konsumsi nasi warga lokal dilaporkan menurun karena masyarakat memilih makanan alternatif yang lebih murah.

Tak hanya konsumen di skala rumah tangga, restoran dan bisnis makanan juga mulai keberatan dengan harga beras lokal. Banyak restoran, toko bento, hingga gerai onigiri kini beralih menggunakan beras impor yang lebih murah demi menekan biaya operasional.

Sepanjang 2025, impor beras Jepang dari Amerika Serikat tercatat mencapai 96.834 metrik ton atau naik 95 kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Sementara total impor beras dari berbagai negara meningkat hingga 104 kali lipat dibanding 2024.

Respons masyarakat terhadap penumpukan stok beras ini pun terbilang dingin. Banyak konsumen menilai penjual beras terlambat menurunkan harga.

"Mereka menaikkan harga saat pendapatan masyarakat di Jepang stagnan. Jadi apa yang mereka harapkan?" tulis salah satu komentar netizen di Jepang.

Jika harga tidak segera turun, stok beras lokal di Jepang diperkirakan akan terus menumpuk di gudang karena konsumen dan pelaku usaha memilih alternatif yang lebih terjangkau.




(sob/adr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads