Sereal Basi Ubah Nasib Drastis, Ibu Ini Idap Penyakit Lambung Langka

Sereal Basi Ubah Nasib Drastis, Ibu Ini Idap Penyakit Lambung Langka

Dita Aliccia Armadani - detikFood
Rabu, 06 Mei 2026 15:00 WIB
sereal buah
Foto: Getty Images/iStockphoto/rez-art
Jakarta -

Seorang ibu tiga anak awalnya mengira hanya mengalami masalah ringan setelah makan sereal. Namun, kondisinya berkembang menjadi gangguan serius hingga kini harus menjalani perawatan medis khusus.

Melansir dari Ladbible (1/5), kisah ini dialami oleh Emile Cullum (36) di Amerika Serikat. Gejala awal yang dialami adalah muntah setelah mengonsumsi semangkuk sereal yang ternyata sudah basi, pada November 2024. Saat itu, ia masih beraktivitas seperti biasa, tetapi kondisinya memburuk setelah muntah selama 10 hari berturut-turut.

Situasi tersebut membuatnya harus dirawat di rumah sakit. Dari pemeriksaan, dokter menyatakan bahwa ia mengalami Crohn's disease. Menurut NHS, penyakit ini merupakan kondisi jangka panjang yang menyebabkan peradangan pada saluran pencernaan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Gejalanya meliputi diare, nyeri perut, kelelahan, hingga penurunan berat badan. Meski telah mendapatkan diagnosis awal, kondisinya tidak kunjung membaik. Pada Februari 2025, ia menemui dokter spesialis karena masih kesulitan menelan makanan.

Dari pemeriksaan lanjutan, ia didiagnosis mengalami gastroparesis, yaitu kondisi kronis yang membuat lambung tidak dapat bekerja secara normal. Ia mengungkapkan bahwa dokter menyampaikan kondisi lambungnya sudah tidak berfungsi.

ADVERTISEMENT

"Ketika saya menemui spesialis, dia mengatakan bahwa masalahnya ada di lambung saya. Dia bilang lambung saya benar-benar tidak bekerja dan tidak ada yang bisa lewat," ujarnya.

Emile Cullum alami penyakit lambung langka usai makan sereal basi.Emile Cullum alami penyakit lambung langka usai makan sereal basi. Foto: Kennedy News and Media

Awalnya, ia mengira kondisi tersebut masih bisa diatasi. Namun, berat badannya terus menurun. Ia juga mengaku mendapat penjelasan dari tim medis mengenai kondisinya.

"Saat di rumah sakit, mereka mengatakan jika saya tidak bisa menambah berat badan, pada dasarnya saya seperti 'dipaksa anoreksia'," katanya.

Pada akhir musim panas 2025, berat badannya turun drastis dari sekitar 53 kilogram menjadi hanya sekitar 30 kilogram. Kondisi ini membuatnya harus menjalani perawatan paliatif karena kesulitan menambah berat badan.

Saat ini, ia berupaya mengumpulkan dana untuk mendapatkan perawatan lanjutan secara privat. Ia berharap bisa memiliki lebih banyak waktu bersama anak-anaknya dan tidak ingin menghabiskan waktu di rumah sakit tanpa keluarga.

Saat ini, ada sedikit perkembangan setelah pemasangan selang permanen di usus yang membantunya menambah berat badan sekitar 6 kilogram.

Namun, peluang untuk bertahan dalam jangka panjang bergantung pada terapi nutrisi khusus seperti Total Parenteral Nutrition (TPN), yang hanya dapat memperpanjang hidup, bukan menyembuhkan kondisi tersebut.

(adr/adr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads