Kota Bangkok di Thailand identik dengan budaya makanan kaki limanya yang enak. Sayangya, aturan pemerintah yang ketat membuat budaya ini terancam hilang.
Selain jadi destinasi wisata populer, Bahkok dinobatkan sebagai destinasi kuliner terbaik kedua di Asia setelah Hong Kong dalam ajang 'Tripadvisor Travelers' Choice Awards 2026.
Namun di balik popularitas tersebut, masa depan pedagang kaki lima yang menjadi tulang punggung kuliner jalanan Bangkok kini menghadapi ketidakpastian akibat pengetatan aturan dari pemerintah setempat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dilansir dari AFP (05/05/2026), selama ini, street food menjadi daya tarik utama para pelancong yang liburan ke Bangkok, dengan deretan gerobak dan kios makanan sederhana yang beroperasi sejak pagi hingga larut malam di tepi jalan.
Duh! Nasib Street Food Bangkok di Ujung Tanduk Akibat Aturan Ketat Foto: AFP |
Namun, pemerintah kota Bangkok mulai menertibkan trotoar dan memindahkan pedagang ke lokasi khusus seperti pusat jajanan. Kebijakan ini membuat banyak pedagang khawatir kehilangan mata pencaharian.
Salah satu pedagang, Looknam Sinwirakit, mengaku resah dengan situasi tersebut. Ia pernah didenda karena berjualan makanan di area terlarang.
"Saya khawatir karena kami berjualan makanan secara ilegal. Pedagang perlu mencari nafkah. Tidak adil jika kami langsung digusur," ujarnya. Meski demikian, ia menyadari bahwa jika diminta pindah, ia tidak punya banyak pilihan.
Kekhawatiran serupa juga dirasakan Wong Jaidee, pedagang durian yang sudah berjualan lebih dari 20 tahun di Bangkok.
Duh! Nasib Street Food Bangkok di Ujung Tanduk Akibat Aturan Ketat Foto: AFP |
"Saya tidak punya rencana cadangan jika digusur. Biaya hidup di Bangkok tinggi dan kami mungkin tidak sanggup," katanya.
Data pemerintah kota Bangkok menunjukkan jumlah pedagang kaki lima telah berkurang lebih dari 60% sejak 2022, dengan sekitar 10.000 pedagang makanan tidak lagi berjualan di jalanan. Sebagian pedagang berpindah ke pusat jajanan, sementara lainnya memilih menutup usaha karena aturan yang semakin ketat.
Pemerintah kota melalui pejabat Kunanop Lertpraiwan menyatakan bahwa relokasi para pedagang makanan kaki lima ini akan dilakukan secara bertahap.
"Kami memberi waktu dan berkomunikasi dengan jelas. Tidak serta-merta memindahkan mereka begitu saja," ujarnya. Pedagang yang pindah ke pusat jajanan dikenakan biaya sewa sekitar 60 THB (Rp 32.000) per hari.
Duh! Nasib Street Food Bangkok di Ujung Tanduk Akibat Aturan Ketat Foto: AFP |
Tapi tidak semua penjual makanan menolak dengan relokasi ini. Bagi sebagian pedagang, relokasi justru membawa manfaat. Salah satu penjual makanan bernama Panissara Piyasomroj menilai fasilitas di pusat jajanan lebih baik.
"Usaha makanan saya jadi lebih tertata dan terlihat lebih bersih," katanya.
Di sisi lain, wisatawan mancanegara tetap melihat street food sebagai bagian budaya kuliner yang tak terpisahkan dari identitas kota Bangkok.
"Akan sangat disayangkan jika kuliner jalanan kaki lima ini hilang. Ini adalah bagian dari budaya Bangkok." ujar Oliver Peter, turis asal Jerman.
(sob/adr)




KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN