Kisah Naik Turun Mixue: Sukses dari Nol hingga Tutup 428 Gerai di Asia

Kisah Naik Turun Mixue: Sukses dari Nol hingga Tutup 428 Gerai di Asia

Riska Fitria - detikFood
Jumat, 01 Mei 2026 11:16 WIB
Ekspansi Besar! Mixue Siapkan Taman Hiburan Snow King di Zhengzhou
Foto: Site News
Jakarta -

Mixue kini menjamur di banyak negara dengan menu andalan es krim murah meriah. Di balik itu, ada kisah jatuh bangun hingga penutupan ratusan gerainya.

Mixue jadi salah satu brand es krim dan minuman manis yang sangat populer. Gerainya menjamur di berbagai negara dengan harga menu yang ramah di kantong.

Ekspansi besar-besaran membuat Mixue mudah ditemui di banyak negara. Mulai dari Asia hingga pasar baru, pertumbuhannya terbilang agresif dalam beberapa tahun terakhir.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, di balik ekspansi itu, Mixue juga menghadapi tantangan bisnis. Terbaru, ratusan gerainya ditutup sebagai bagian dari strategi efisiensi.

Di balik popularitas Mixue saat ini, ada perjalanan panjang yang penuh tantangan. Dikutip dair berbagai sumber berikut faktanya:

ADVERTISEMENT

1. Sejarah Mixue

Kisah 2 Bersaudara Kembangkan Kerajaan Bisnis Mixue Bernilai Miliaran DollarEs krim Mixue. Foto: Says Malaysia

Dikutip dari Food Talks, Mixue pertama kali dirintis pada 1997 oleh Zhang Hong Chao, seorang mahasiswa. Ia memulai usaha dengan berjualan es serut di sebuah toko sederhana.

Saat itu, Zhang menjalankan bisnis sambil bekerja paruh waktu dan menyelesaikan kuliah. Ketekunannya terlihat dari keseriusannya mengembangkan usaha kecil tersebut.

Modal awal didapat dari sang nenek sebesar 4.000 Yuan atau sekitar Rp 8 juta. Uang itu dipakai untuk membuka gerai bernama "Es Serut Aliran Dingin".

2. Modal Nekat

Zhang mengaku hanya bermodal nekat saat memulai usaha es serutnya. Karena dana terbatas, gerai dan peralatannya dibuat sangat sederhana.

Mesin es serut pun dirakit sendiri dari motor, meja putar, dan alat pemotong. Menu yang dijual masih minim, hanya es serut, es krim, dan smoothie.

Setelah usaha mulai berkembang, ia menambah menu teh susu. Dari kegigihannya, Zhang bisa meraup sekitar Rp 200.000 per hari

3. Jatuh-bangun Mendirikan Usaha

Mixue Resmi Buka Gerai Pertama di Kawasan Elite New YorkMixue melakukan eskpansi besar-besaran. Foto: Site Culinary

Namun, perjalanan bisnisnya tak selalu mulus. Zhang sempat merugi karena faktor cuaca, mengingat produk utamanya berbasis es.

Saat musim dingin, dagangannya sepi pembeli hingga tak laku. Kondisi itu membuat usahanya terpuruk dan gerainya sempat tutup.

Zhang tak menyerah dan kembali bangkit dengan nama baru, Mixue Bingcheng pada 1999. Selama hampir satu dekade, usahanya mengalami pasang surut.

4. Harga Murah hingga Ekspansi ke Banyak Negara

Setelah melewati pasang surut, Mixue menemukan momentum pada 2006. Tren es krim cone ala Jepang ikut terdongkrak saat Olimpiade Beijing 2008.

Es krim cone yang awalnya sekitar Rp 2.000 sempat dijual hingga 10 kali lipat karena momen langka. Dari sini, Zhang melihat peluang besar di bisnis es krim murah.

Ia lalu meracik formula es krim terjangkau dan menjualnya sekitar Rp 4.000, saat pesaing di kisaran Rp 20.000.

Kini Mixue ekspansi ke China, Indonesia, Vietnam, Malaysia, hingga Thailand, dengan harga menu umumnya Rp 8.000-Rp 25.000.

5. Menutup 428 Gerai di Indonesia-Vietnam

Employees of Chinese ice cream and beverage chain Mixue check freshly prepared drinks at the company's first Brazilian store ahead of its opening to the public, marking the brand's arrival in South America amid a fresh tide of Chinese investment, in Sao Paulo, Brazil, April 9, 2026. REUTERS/Alexandre MeneghiniMixue jadi pilihan yang murah meriah. Foto: REUTERS/Alexandre Meneghini

Dikutip dari VN Express (29/4) Mixue menutup 428 gerai sepanjang 2025 sebagai bagian dari strategi efisiensi. Penutupan ini dilakukan untuk mengoptimalkan operasional dan menjaga bisnis tetap stabil.

Gerai yang terdampak paling banyak berada di Indonesia dan Vietnam. Meski begitu, perusahaan tak merinci jumlah pasti penutupan di tiap negara.

Di tengah penutupan, Mixue tetap berekspansi ke pasar baru seperti AS dan Kazakhstan. Hingga akhir 2025, total gerainya mencapai 59.823 unit secara global.

Halaman 2 dari 3


Simak Video "Menjelajahi Ragam Rasa di Resinda Hotel Karawang"
[Gambas:Video 20detik]
(raf/adr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads