Masakan khas China identik dengan cita rasa pedas dari cabai. Namun dulu, cabai hanya dimanfaatkan sebagai tanaman hias dan jadi simbol seksualitas. Ini sejarahnya!
Makanan pedas sudah jadi bagian tak terpisahkan dari kuliner China. Di banyak kota, hidangan bercita rasa pedas mudah ditemukan di berbagai sudut.
Tak sedikit yang menganggap cabai sebagai bahan khas negeri tersebut. Padahal, bahan ini punya sejarah panjang sebelum akhirnya populer.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari sekadar tanaman hias hingga jadi simbol kebersamaan, cabai mengalami perjalanan unik. Perannya kini bukan hanya soal rasa, tapi juga budaya.
Dikutip dari South China Morning Post (27/4) berikut faktanya:
1. Cabai Bukan Asli China, Baru Masuk Abad ke-16
Ilustrasi cabai. Foto: Gilang Faturahman/detikfoto |
Saat ini, cabai jadi bagian penting kuliner China. Hampir di setiap daerah, makanan pedas mudah ditemukan.
Namun, cabai sebenarnya bukan tanaman asli China. Bahan ini dibawa oleh pedagang Eropa pada abad ke-16.
Peneliti dari Sun Yat-sen University, Cao Yu, menyebut cabai baru dikonsumsi luas sekitar 300 tahun terakhir.
2. Dari Tanaman Hias hingga Simbol Seksual
Ketika pertama masuk, cabai tidak langsung dimakan. Masyarakat menjadikannya tanaman hias karena bentuknya menarik.
Lalu muncul kepercayaan bahwa cabai berkaitan dengan gairah seksual perempuan. Anggapan ini berkembang di masyarakat.
Dalam karya klasik The Peony Pavilion oleh Tang Xianzu, cabai melambangkan pernikahan dan awal kehidupan seksual.
3. Jadi 'Rempah Orang Miskin' karena Garam Mahal
Wilayah Guizhou tercatat sebagai tempat pertama yang mengonsumsi cabai di China Foto: Getty Images |
Wilayah Guizhou tercatat sebagai tempat pertama yang mengonsumsi cabai. Warga menggunakannya sebagai pengganti garam.
Pada masa itu, garam tergolong mahal dan sulit diakses, terutama di wilayah tertentu. Cabai menjadi solusi praktis.
Menurut penelitian Cao Yu, kondisi ini membuat makanan pedas identik dengan masyarakat kelas bawah, bukan bangsawan.
4. Jadi Populer di China
Dulu, makanan pedas dianggap sederhana dan kurang bergengsi. Bahkan tokoh Dinasti Qing, Zeng Guofan, disebut mengonsumsi cabai secara diam-diam.
Dalam delapan kuliner besar China, hanya Sichuan dan Hunan yang identik dengan rasa pedas.
Namun dalam 30 tahun terakhir, makanan pedas semakin digemari luas. Restoran pedas kini menjamur di berbagai kota besar.
5. Makan Pedas Jadi Simbol Kebersamaan dan Empati
Sejarah cabai di China Foto: Getty Images |
Menurut Cao Yu, popularitas cabai tak hanya soal rasa. Ada pengalaman emosional yang dirasakan saat menyantapnya bersama.
Ia mengatakan, "Makan pedas bersama berarti saya mau merasakan sakit bersama Anda."
Ia juga menambahkan, "Di situ ada empati, sehingga orang bisa merasa lebih dekat," yang menjelaskan fungsi sosial dari makanan pedas di China.
Simak Video "Pedas Menyala! Bebek Ganas dengan 60 Cabe Rawit"
[Gambas:Video 20detik]
(raf/adr)




KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN