Terungkap! 3 Faktor Ini Bikin Lidah 'Error' Saat Makan di Pesawat

Terungkap! 3 Faktor Ini Bikin Lidah 'Error' Saat Makan di Pesawat

Dita Aliccia Armadani - detikFood
Senin, 27 Apr 2026 12:30 WIB
Sering Kamu Pesan? 5 Menu Pesawat Ini Ternyata Tak Disarankan Pramugari
Foto: Getty Images/lechatnoir
Jakarta -

Banyak orang merasa makanan di pesawat terasa hambar atau kurang enak. Ternyata bukan cuma perasaan, hal ini bisa dijelaskan secara ilmiah.

Membawa makanan sendiri ke pesawat ternyata diperbolehkan, selama mengikuti aturan keamanan yang berlaku. Selain soal selera, ada alasan ilmiah mengapa langkah ini bisa jadi pilihan yang tepat saat terbang.

Melansir dari Reader's Digest (10/4), menurut ahli pangan Abby Thiel, kondisi di dalam pesawat bukan mengubah rasa makanan, melainkan cara tubuh merasakannya. Pada ketinggian tertentu, kemampuan indra perasa untuk mendeteksi rasa manis dan asin bisa menurun hingga sekitar 30 persen. Sementara itu, rasa pahit dan asam relatif sama, sedangkan rasa umami justru bisa lebih kuat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Salah satu penyebab utamanya adalah perubahan pada indra penciuman. Di dalam kabin pesawat, kelembapan udara sangat rendah, hanya sekitar 10-20 persen. Kondisi ini membuat hidung dan mulut menjadi kering.

Ditambah lagi, tekanan udara dapat menyebabkan saluran hidung sedikit membengkak. Akibatnya, kemampuan mencium aroma menurun, padahal penciuman sangat memengaruhi persepsi rasa. Selain itu, udara kering juga mengurangi produksi air liur.

ADVERTISEMENT

Padahal, air liur berfungsi membantu melarutkan molekul rasa agar bisa dideteksi oleh lidah. Dengan jumlah air liur yang lebih sedikit, rasa makanan menjadi kurang terasa. Inilah yang membuat makanan di pesawat sering terasa lebih hambar dibanding saat di darat.

Faktor ketiga yang berpengaruh adalah kebisingan kabin. Suara mesin pesawat yang berkisar 80-85 desibel dapat memengaruhi cara otak memproses rasa. Dalam kondisi bising, rasa manis dan asin cenderung lebih lemah, sementara umami menjadi lebih menonjol.

Gangguan suara juga dapat mengalihkan perhatian otak dari pengalaman makan secara keseluruhan. Dari kondisi ini, maskapai biasanya menambahkan lebih banyak garam dan bumbu agar makanan tetap terasa saat di udara. Namun, hal ini terkadang membuat makanan terasa terlalu asin atau tidak seimbang.

Ahli gizi Angel Luk menyebut kandungan natrium yang lebih tinggi ini memang ditujukan untuk mengimbangi perubahan indra perasa, meski porsinya relatif kecil. Membawa makanan sendiri memberi kontrol lebih terhadap rasa dan kualitas makanan. Hal ini juga penting bagi penumpang dengan kebutuhan khusus, seperti alergi.

Namun, makanan dari rumah tetap bisa terasa hambar di udara. Untuk mengatasinya, disarankan memilih bahan makanan yang punya rasa umami alami, seperti tomat, jamur, atau kedelai, serta menambahkan rasa asam seperti lemon atau cuka.

(adr/adr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads