Banyak mitos keliru soal matcha yang masih dipercaya, mulaidari soal kualitas matcha sampai rasanya. Berikut mitos matcha yang tak perlu lagi dipercaya.
Matcha semakin populer sebagai minuman sehat dan menjadi favorit banyak orang, baik dinikmati di kafe maupun dibuat sendiri di rumah.
Namun, di balik popularitasnya, masih banyak anggapan atau mitos yang keliru mengenai matcha. Sebut saja soal kualitas, rasa, hingga cara penyajian matcha.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tidak sedikit informasi yang beredar justru membingungkan konsumen, terutama bagi pemula. Padahal, memahami karakteristik matcha secara tepat penting agar tidak salah dalam memilih maupun mengonsumsinya.
Dilansir dari Tezumi (16/04/2026), berikut 7 mitos tentang matcha yang keliru dan perlu diluruskan:
1. Ceremonial Grade
3 jenis matcha: ceremonial, daily, dan culinary grade Foto: Getty Images/iStockphoto |
Popularitas matcha yang meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir, terutama di negara-negara Barat, turut memicu munculnya berbagai mitos yang membingungkan konsumen.
Salah satu yang paling umum adalah anggapan bahwa ada klasifikasi resmi seperti 'ceremonial grade'. Faktanya, istilah tersebut tidak memiliki standar baku maupun regulasi resmi. Produsen bebas memberi label sesuai kepentingan pemasaran.
Hal ini membuat konsumen sulit menilai kualitas matcha sebenarnya. Dalam budaya teh tradisional Jepang, kualitas matcha lebih dikenal melalui kategori seperti keiko, usucha, dan koicha yang memiliki fungsi berbeda dalam upacara minum teh.
2. Semakin Hijau, Semakin Berkualitas
matcha dan green tea Foto: Getty Images/victoriya89 |
Warna hijau cerah memang sering dikaitkan dengan matcha kualitas tinggi. Secara umum, matcha berkualitas memang memiliki warna hijau yang lebih hidup dan tekstur halus.
Namun, warna bukan satu-satunya indikator. Faktor seperti jenis daun, metode penanaman, hingga proses pemanggangan juga memengaruhi warna. Bahkan matcha berkualitas tinggi bisa saja tidak terlalu gelap karena beberapa faktor.
3. Matcha Organik Lebih Baik
Anggapan bahwa matcha organik selalu lebih baik juga perlu diluruskan. Sistem pertanian organik memang lebih ramah lingkungan, tetapi proses sertifikasinya tidak mudah dan membutuhkan biaya tinggi.
Banyak produsen kecil menghasilkan teh berkualitas tinggi dengan metode alami, tetapi belum tentu memiliki sertifikasi resmi. Selain itu, dari segi rasa, matcha organik cenderung memiliki karakter yang berbeda, bahkan terkadang rasanya kurang kuat dibandingkan matcha konvensional.
Hal ini disebabkan karena penggunaan pupuk memengaruhi cita rasa umami yang menjadi ciri khas matcha berkualitas tinggi.
4. Matcha Selalu Pahit
matcha dan green tea Foto: Getty Images/victoriya89 |
Matcha sering dianggap memiliki rasa pahit yang kuat. Padahal, hal tersebut umumnya terjadi pada matcha berkualitas rendah.
Kandungan kafein dan katekin memang dapat menimbulkan rasa pahit, tetapi matcha berkualitas tinggi dan diproses dengan baik justru memiliki rasa yang lebih lembut dan seimbang. Selain itu, kandungan asam amino yang tinggi membantu menyeimbangkan rasa sehingga matcha tidak terlalu pahit.
5. Matcha Hanya Bubuk Teh Hijau Biasa
Tidak sedikit yang menganggap matcha hanyalah bubuk teh hijau biasa. Padahal, matcha memiliki proses produksi yang jauh lebih kompleks. Matcha dibuat dari daun teh khusus bernama tencha yang ditanam dan diolah dengan metode tertentu.
Setelah itu, daun digiling menggunakan batu granit hingga menjadi bubuk halus berukuran mikro. Proses ini tidak bisa disamakan dengan teh hijau bubuk biasa seperti funmatsu-sencha. Perbedaan teknik pengolahan ini menghasilkan karakter rasa, tekstur, dan kualitas yang berbeda secara signifikan.
6. Harus Pakai Alat Mahal untuk Seduh Matcha
Mitos lain yang cukup populer adalah anggapan bahwa membuat matcha membutuhkan peralatan mahal dan rumit. Faktanya, proses pembuatan matcha cukup sederhana.
Peralatan dasar yang dibutuhkan hanya mangkuk, saringan, dan pengocok bambu atau chasen. Meski saat ini tersedia berbagai alat modern, hasilnya belum tentu sebanding dengan metode tradisional. Tetapi cara alternatif seperti milk frother atau bahkan botol juga bisa digunakan. Intinya, membuat Matcha tidak harus menggunakan alat mahal.
7. Matcha Harus Berbusa
Matcha Harus Berbusa. Foto: Getty Images/Food Photographer |
Banyak orang juga beranggapan bahwa matcha harus selalu berbusa agar dianggap sempurna. Padahal, busa bukanlah syarat utama kualitas matcha. Dalam tradisi Jepang, terdapat dua jenis penyajian, yaitu usucha yang cenderung berbusa dan koicha yang kental tanpa busa.
Bahkan beberapa jenis upacara teh di Jepang lebih menyukai matcha tanpa busa. Dengan demikian, preferensi penyajian matcha sangat bergantung pada selera masing-masing orang. Busa hanya menjadi salah satu karakteristik, bukan penentu utama kualitas matcha.
Simak Video "Nyobain Ragam Olahan Matcha Cafe Kekinian di KAMAJA Jaksel"
[Gambas:Video 20detik]
(sob/sob)





KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN