Viral pengakuan pelaku usaha kuliner soal oknum food vlogger yang minta makan gratis sekaligus bayaran. Banyak yang mengaku rugi!
Jagat media sosial kembali dihebohkan dengan perbincangan soal praktik nakal oknum food vlogger atau kreator konten kuliner.
Kali ini, sorotan datang dari sebuah unggahan anonim yang viral di Facebook, dibagikan oleh akun bernama Li Dashu yang diketahui identitasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Unggahan tersebut mengungkap pengalaman seorang pelaku usaha kuliner yang mengaku kecewa dengan ulah sebagian food reviewer yang dinilai tak profesional.
Ilustrasi food vlogger. Foto: iStock |
Dalam ceritanya, pelaku usaha tersebut mengaku bukanlah pemilik restoran besar, melainkan pebisnis kuliner yang membangun usahanya dari nol. Ia mengandalkan kualitas rasa dan loyalitas pelanggan.
Suatu hari, ia dihubungi oleh seorang kreator konten yang menawarkan jasa promosi dengan iming-iming bisa meningkatkan eksposur dan mendatangkan pelanggan.
Awalnya tawaran itu terdengar menggiurkan. Namun, setelah dibicarakan lebih lanjut, ia justru menemukan kejanggalan, seperti yang dikutip dari media China NOUODOU (14/4).
Ilustrasi food vlogger. Foto: iStock |
Kreator tersebut meminta fasilitas makan gratis, sekaligus tetap mengenakan biaya untuk pembuatan konten.
"Mereka makan di tempat kita, bikin video, tapi kita juga harus bayar. Saya sampai kaget," ujarnya.
Ia kemudian mencoba menggali lebih jauh soal objektivitas ulasan yang akan diberikan. Namun jawaban yang diterima justru membuatnya semakin ragu.
"Saya tanya, kalau makanannya tidak enak, apakah akan disampaikan jujur? Dia bilang, 'Tenang saja, kami tidak akan bilang yang jelek'," ungkapnya.
Dari situ, ia menyimpulkan bahwa praktik tersebut lebih condong ke arah iklan terselubung, bukan ulasan jujur. Ia pun menyoroti dampaknya bagi konsumen dan pelaku usaha.
Food Vlogger ilustrasi. Foto: iStock |
Menurutnya, banyak makanan biasa saja, bahkan kurang enak dan bisa terlihat menarik karena teknik pengambilan gambar, editing, dan narasi berlebihan seperti wajib coba" atau "hidden gem".
Akibatnya, pelanggan yang datang karena penasaran sering kali tidak kembali lagi. "Yang dirugikan akhirnya tetap kami, pelaku usaha. Orang datang sekali, habis itu tidak balik," katanya.
Ia juga menyinggung sikap sebagian kreator yang dianggap semakin punya kuasa. Ada yang menolak datang jika tidak dibayar atau tidak disediakan makanan gratis. Bahkan ada yang memberi kesan tekanan halus jika tidak dipenuhi.
Meski begitu, ia menegaskan tidak semua kreator bersikap demikian, karena masih ada yang bekerja secara profesional dan jujur.
Fenomena ini, menurutnya, perlu menjadi perhatian. Ia mengingatkan sesama pelaku usaha agar tidak terlalu bergantung pada promosi instan.
"Kalau restoran kamu viral karena cara seperti ini, kamu harus siap juga cepat turun. Yang bikin pelanggan balik itu bukan karena review, tapi karena makanannya memang enak," tutupnya.
(raf/adr)




KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN