Berbeda dengan satai Padang atau Madura, satai khas Aceh ini tampil berbeda karena disajikan dengan sup hangat dan nasi gurih yang bikin nagih. Seperti apa rasanya?
Di Binjai, ada satu tempat yang menyajikan hidangan satai khas Aceh ini. Namanya kedai Satai Matang Cut Ame, yang berada di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kelurahan Pahlawan, Binjai Utara.
Wati selaku pemilik usaha mengatakan dirinya sudah mulai berjualan sejak 2022, bermula dari teras rumah hingga kini berpindah ke lokasi yang lebih strategis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Awalnya kami jualan di teras rumah, tapi karena ramai pindah ke Jalan Kartini, sekarang baru sekitar tiga bulan di tempat ini," ujar Wati saat dijumpai detiksumut (31/03/2026).
Usaha ini berawal dari menantunya yang merupakan orang asli Bireuen, Aceh, sebelum akhirnya dilanjutkan oleh Wati hingga berkembang dan dikenal di Binjai.
"Ini sebenarnya usaha menantu saya, karena dia lanjut kerja, jadi saya yang menjalankan," katanya.
Satai matang khas Aceh. (Laila Syakira/detikSumut) Foto: Satai matang khas Aceh. (Laila Syakira/detikSumut) |
Ia menyebut, satai matang masih tergolong baru bagi sebagian warga Binjai. Bahkan, tak sedikit pelanggan yang salah memahami nama makanan tersebut.
"Banyak yang kira matang itu artinya masak, padahal itu sebutan nama untuk wilayah di Aceh, sebutan nama desa atau kelurahan," jelasnya.
Berbeda dengan satai pada umumnya, satai matang disajikan dengan nasi putih, kuah sop hangat, dan satai berbumbu kacang yang banyak. Perpaduan ini menciptakan rasa gurih, sedikit pedas dan manis, dengan aroma khas daging yang di bakar.
"Kalau menurut saya sih ini udah pas banget. Makan satai sama nasi saja kan terasa kering, makanya dipadukan dengan kuah sop jadi lebih pas," ujarnya.
Untuk menyesuaikan selera pelanggan, Wati juga menyediakan lontong sebagai alternatif pengganti nasi yang cukup diminati.
"Banyak juga yang request pakai lontong, jadi kami sediakan supaya sesuai dengan selera di sini," katanya.
Dalam sehari, ia mengaku bisa menjual sekitar 40 hingga 50 porsi, dengan pelanggan yang datang tidak hanya dari Binjai, tetapi juga dari daerah lain.
"Dari Medan pun ada yang ke sini bermobil mobil, bahkan ada yang pesan dari Kampung Lalang ke Binjai lewat ojek online, memang sudah ada pelanggan dari jauh," ucapnya.
Nama "satai Matang Cut Ame" sendiri juga punya cerita unik dari perpaduan budaya Aceh dan Karo.
"Cut itu panggilan perempuan dalam bahasa Aceh, karena menantu saya orang Aceh. Kalau Ame itu panggilan dalam bahasa Karo, karena anak saya keturunan Karo dari ayahnya," jelas Wati.
Untuk harga, satu porsi satai matang dibanderol Rp 35 ribu lengkap dengan nasi. Sementara tanpa nasi dijual Rp 30 ribu, tetap dengan sajian satai dan kuah sop khasnya.
Wati menyebut, usahanya kemungkinan menjadi yang pertama menghadirkan satai matang di Binjai dan kini mulai dikenal oleh masyarakat luas.
"Kalau orang sini, banyak yang tahunya satai matang dari tempat kami ini," tutupnya.
Kedai Satai Matang Cut Ame buka setiap hari mulai pukul 12.00 hingga 22.00 WIB, jadi pengunjung bisa mencobanya kapan saja.
Artikel ini ditulis oleh Laila Syakira peserta program Maganghub Kemenaker di detikcom, dan sudah tayang di detiksumut dengan judul: "Nikmatnya Satai Matang Khas Aceh yang Disantap dengan Nasi dan Kuah Sup"
(sob/sob)


KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN