Tak sekadar lauk pauk yang identik dengan lebaran, opor ternyata punya makna mendalam. Berawal dari akulturasi budaya, hidangan ini jadi lambang kesucian.
Aroma gurih santap dari opor ayam melekat dengan perayaan Hari Raya Idul Fitri di Indonesia. Hidangan ini biasanya tersaji bersama ketupat, sambal goreng hati, dan kerupuk sebagai menu khas saat keluarga berkumpul merayakan Lebaran.
Bagi banyak orang, opor bahkan dianggap sebagai menu wajib yang selalu hadir di meja makan setiap tahun. Meski begitu, tidak banyak yang mengetahui bahwa opor sebenarnya memiliki sejarah panjang dalam perkembangan kuliner Nusantara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hidangan ini tidak muncul begitu saja sebagai makanan Lebaran, tapi lahir dari proses pertemuan berbagai budaya yang terjadi sejak berabad-abad lalu melalui jalur perdagangan dan penyebaran agama.
Dirangkum dari berbagai sumber, berikut fakta sejarah penyajian opor saat lebaran:
Penyajian opor ayam ternyata berasal dari akulturasi berbagai budaya. Foto: Istimewa |
1. Hasil Akulturasi Budaya
Sejarawan kuliner menyebutkan bahwa opor lahir dari proses akulturasi kuliner antara Indonesia, India, dan Arab. Pengaruh tersebut masuk ke Nusantara melalui jalur perdagangan dan penyebaran Islam sejak abad pertengahan.
Masakan India membawa tradisi kari, sedangkan pedagang Arab memperkenalkan hidangan berbumbu seperti gulai. Masyarakat lokal kemudian memodifikasi kedua konsep tersebut dengan bahan dan selera lokal.
Penambahan santan yang lebih dominan dengan mengurangi intensitas bumbunya membuat opor kemudian lahir di Nusantara. Sebab pengaruh perdagangan dan penyebaran Islam berkembang di daerah pesisir, hidangan opor juga banyak ditemukan di wilayah yang memiliki akar budaya Melayu dan Jawa.
2. Muncul Sejak Abad ke-15
Menurut penelitian sejarah kuliner, opor mulai berkembang di Pulau Jawa sekitar abad ke-15 hingga ke-16. Pada masa itu, masyarakat Jawa sudah mengenal kari yang dibawa oleh pedagang asing, kemudian diolah kembali dengan teknik dan bahan lokal.
Di Jawa, santan menjadi unsur penting dalam banyak masakan tradisional. Hal ini membuat opor memiliki kuah santan yang lembut dan tidak terlalu pedas dibanding kari India.
Secara perlahan opor kemudian menyebar pada beberapa wilayah di pulau Jawa. Dimulai dari Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Solo hingga kemudian dikenal hampir seluruh wilayah di pulau Jawa dari Timur ke Barat.
3. Berawal dari Sajian Acara Khusus
Pada masa lalu, opor bukanlah makanan sehari-hari. Hidangan ini biasanya hanya disajikan pada acara penting, seperti selamatan, syukuran, atau perayaan besar.
Hal ini karena bahan seperti ayam dan berbagai rempah dianggap cukup mewah. Di masa lalu daging ayam juga bukan menjadi pilihan bahan makanan yang selalu tersedia sepanjang tahun.
Opor hanya disajikan pada acara besar untuk dimakan bersama keluarga besar. Salah satunya termasuk perayaan Idul Fitri yang hanya berlangsung satu kali dalam satu tahun.
Penyajiannya bersama ketupat saat lebaran ternyata sarat akan makna filosofisnya. Foto: Getty Images/Ika Rahma |
4. Makna Filosofis Opor
Di banyak keluarga Jawa, opor memiliki makna simbolis. Kuah santan yang berwarna putih sering dimaknai sebagai kesucian dan kembali ke fitrah setelah menjalani ibadah puasa.
Wira Hardiansyah, selaku chef dan sejarawan kuliner, menyebut opor pertama kali diperkenalkan oleh Wali Songo. Penyajiannya dilambangkan sebagai budaya meminta maaf.
"Jadi opor itu dipakai oleh Islam yang berasal dari orang Jawa. Artinya itu 'ngapura ing ngapuro' (bermakna) maaf dan memaafkan. Sebelum ada Islam, 'ngapura ing ngapuro' sudah menjadi tradisi orang Jawa untuk meminta maaf," lanjut Wira kepada detikcom (20/4/2023).
Simak Video "Alasan Ketupat Jadi Makanan Identik saat Lebaran "
[Gambas:Video 20detik]
(dfl/adr)



KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN