Chef ternama René Redzepi akhirnya menanggapi tuduhan kekerasan terhadap karyawan yang pernah bekerja di restoran terbaik di dunia, Noma. Begini tanggapannya!
Tuduhan tersebut mencuat setelah laporan investigasi media The New York Times menyebut ada lebih dari 35 mantan karyawan restoran berbintang tiga Michelin dari Denmark itu mengaku pernah mengalami kekerasan fisik maupun psikologis di tempat kerja.
Redzepi dituduh melakukan tindakan kekerasan seperti menendang, memukul, hingga mempermalukan karyawan di depan umum selama bekerja di dapur restoran tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menanggapi kontroversi itu, Redzepi menyampaikan pernyataan melalui akun Instagram pribadinya. Dilansir dari Hindustan Times (11/03/2026), dalam pernyataannya, Redzepi mengakui sebagian perilaku yang disebutkan dalam laporan tersebut memang mencerminkan sikapnya di masa lalu.
"Saya ingin menanggapi kabar tentang tentang cara saya memimpin dapur restoran Noma di masa lalu yang kembali muncul belakangan ini. Meskipun saya tidak mengenali semua detail dalam cerita itu, saya bisa melihat cukup banyak perilaku saya di masa lalu yang menyakiti orang-orang yang bekerja bersama saya," tulisnya.
Karyawan di Noma. Foto: Site News |
Redzepi juga menyampaikan permintaan maaf kepada para mantan karyawan yang merasa dirugikan selama mereka bekerja di Noma.
"Kepada mereka yang pernah menderita karena kepemimpinan saya, keputusan buruk saya, atau kemarahan saya, saya benar-benar meminta maaf dan saya sudah berusaha untuk berubah," ujarnya.
Redzepi menjelaskan bahwa tekanan besar dalam mengelola restoran terbaik di dunia turut memengaruhi sikapnya saat itu. Ia mengaku tumbuh dalam lingkungan dapur profesional yang penuh teriakan dan tekanan.
"Ketika pertama kali belajar memasak, saya bekerja di dapur yang menganggap teriakan, penghinaan, dan rasa takut sebagai bagian dari budaya kerja. Saya pernah berpikir jika suatu hari memiliki dapur sendiri, saya tidak akan memimpin dengan cara seperti itu. Namun setelah Noma berdiri dan tekanan semakin besar, saya justru menjadi sosok chef yang dulu tidak ingin saya tiru," katanya.
Menurut Redzepi, sekitar 10 tahun lalu ia mulai menyadari perilakunya tersebut dan berupaya mengubahnya. Ia menyebut telah menjalani terapi serta mengambil jarak dari aktivitas yang berkaitan dengan dapur restoran untuk mengelola emosinya dengan lebih baik.
"Selama satu dekade terakhir saya kerap menjalani terapi, melakukan refleksi diri yang mendalam, dan belajar cara yang lebih baik untuk mengendalikan kemarahan," jelasnya.
Ia menambahkan bahwa budaya kerja di dapur restoran Noma kini telah banyak berubah. Redzepi mengucapkan rasa terima kasih kepada timnya yang ikut mendorong perubahan tersebut.
Hidangan Nordik modern di Noma. Foto: Site News |
"Manajemen Noma sekarang sangat berbeda dibandingkan saat pertama berdiri. Saya bersyukur kepada tim kami yang membantu mengubah budaya tersebut dan mendorong industri ini menjadi lebih baik," ujarnya.
Permintaan maaf Redzepi memicu beragam reaksi di media sosial. Sebagian netizen menilai pengakuannya sebagai langkah berani untuk memperbaiki diri. Namun, ada pula yang mempertanyakan apakah para korban akan mendapatkan keadilan atas pengalaman mereka di masa lalu.
Menilik sejarahnya, Noma merupakan restoran bintang tiga Michelin terkemuka di Kopenhagen, Denmark, yang didirikan oleh Chef René Redzepi dan Claus Meyer di 2003.
Dikenal dengan kuliner Nordik modern dan bahan makanan musiman yang inovatif, Noma sudah lima kali dinobatkan sebagai restoran terbaik di dunia. Restoran ini menghentikan layanan restoran reguler di tahun 2023, kemudian bertransformasi menjadi laboratorium makanan di tahun 2025.
(sob/adr)



KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN