Sejarah hampers ternyata sudah ada sejak abad ke-11. Awalnya berupa keranjang anyaman untuk membawa makanan, hingga kini berkembang jadi tradisi memberi hadiah saat Lebaran.
Tradisi mengirim hampers saat Lebaran kini semakin populer. Banyak orang menjadikannya cara praktis untuk berbagi kebahagiaan kepada keluarga, sahabat, atau rekan kerja.
Isi hampers pun beragam, mulai dari kue kering hingga makanan premium. Tak hanya isinya, kemasan cantik juga membuat hampers terlihat lebih istimewa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun di balik tren ini, ternyata hampers punya sejarah panjang. Tradisi ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu dan berkembang hingga menjadi budaya memberi hadiah seperti sekarang.
Dikutip dari berbagai sumber, berikut sejarah hampers:
1. Sudah ada sejak abad ke-11
Hampers sudah ada sejak abad ke-11. Foto: iStock |
Tradisi memberi hampers ternyata sudah ada sejak abad ke-11. Kebiasaan ini disebut mulai populer pada masa William the Conqueror setelah Battle of Hastings.
Istilah hampers merujuk pada keranjang anyaman yang dipakai untuk membawa makanan dan minuman. Keranjang ini sering digunakan saat perjalanan jauh melalui darat maupun laut.
Bahan anyaman dipilih karena lebih ringan dibandingkan kayu. Selain itu, keranjang ini juga kuat sehingga makanan di dalamnya tetap aman sampai ke penerima.
2. Jadi bagian dari perayaan penting
Pada 1800-an, saat era Revolusi Industri berlangsung di Inggris, tradisi mengirim hampers mulai identik dengan perayaan. Awalnya keranjang hadiah ini sering diberikan saat Natal.
Di abad ke-19, keluarga kelas menengah dan atas era Queen Victoria menjadikannya hadiah mewah. Sejak itu hampers populer sebagai bingkisan spesial untuk berbagai momen.
Kini hampers juga identik dengan perayaan Lebaran. Isinya biasanya sembako, kue kering, atau makanan yang ditata cantik dalam keranjang, bahkan kadang berisi barang lain.
3. Harganya terkesan mahal
Hampers lebaran Foto: iStock |
Banyak orang menyadari harga hampers Lebaran sering kali cukup mahal. Padahal jika dihitung dari isi produknya saja, nilainya tidak selalu setinggi harga paketnya.
Menurut sosiolog Drajat Tri Kartono dari Universitas Sebelas Maret, harga tinggi itu berkaitan dengan nilai simbolik. Orang membelinya bukan hanya karena fungsi barangnya.
Nilai simbolik muncul dari kesan eksklusif yang diberikan pada penerima. Kemasan cantik dan penataan rapi membuat hampers terasa lebih mewah dan bernilai.



KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN