5 Fakta Lontong Cap Go Meh, Sajian Spesial Penutup Perayaan Imlek

5 Fakta Lontong Cap Go Meh, Sajian Spesial Penutup Perayaan Imlek

Atiqa Rana - detikFood
Selasa, 03 Mar 2026 16:30 WIB
Lontong Cap Go Meh
Foto: iStock
Jakarta -

Saat Cap Go Meh atau puncak perayaan Imlek, biasanya ada hidangan lontong cap gomeh yang melengkapi. Tak sekadar jadi hidangan wajib, makanan ini juga sarat makna.

Cap Go Meh merupakan perayaan puncak setelah 15 hari dari Tahun Baru Imlek. Hal ini menandai penutupan rangkaian perayaan Imlek dalam budaya Tionghoa.

Biasanya Cap Go Meh dirayakan dengan festival lampion, barongsai, dan kuliner khas karena momen ini sering dimaknai sebagai ucapan rasa syukur dan menjadi momen mempererat kebersamaan dengan keluarga.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam perayaan Cap Go Meh ada salah satu hidangan yang selalu hadir, yaitu lontong Cap Go Meh. Lontong ini tidak sekadar menjadi hidangan pelengkap karena terdapat sejumlah fakta menarik di baliknya.

ADVERTISEMENT

Berikut 5 fakta menarik lontong Cap Go Meh :

1. Kuliner peranakan asal China-Jawa

5 Tempat Makan Ini Punya Lontong Cap Gomeh yang Komplet LauknyaLontong Cap Go Meh merupakan kuliner asal peranakan China-Jawa. Foto: Istimewa

Hidangan ini pertama kali ditemukan di pesisir pulau Jawa, tepatnya di daerah Semarang pada abad ke-19. Pada saat itu, kolonial Belanda menjadikan kota tersebut sebagai salah satu pusat perdagangan di Hindia Belanda.

Lalu ada imigran China yang menikah dengan perempuan asal Jawa. Dari sinilah terjadi perpaduan antara kebudayaan peranakan dari China dan Jawa.

Kondisi itu akhirnya menciptakan perpaduan kebiasaan orang China dan Jawa, termasuk ke dalam sajian lontong cap go meh ini.

2. Terinspirasi ketupat dan opor ayam Idul Fitri

Ini Alasannya Ketupat dan Opor Ayam Jadi Sajian Wajib LebaranMakanan ini terinspirasi dari hidangan ketupat opor ayam Idul Fitri. Foto: Getty Images/iStockphoto/Kanawa_Studio

Penyajian lontong Cap Go Meh mirip seperi hidangan Idul Fitri. Rupanya sajian ini memang terinspirasi dari ketupat dan opor ayam dalam perayaan lebaran.

Dilansir dari CNNIndonesia.com (26/2/2021), budayawan Tionghoa, Jongkie Tio mengungkap bila lontong Cap Go Meh Indonesia terpengaruh oleh tradisi kupat masyarakat Jawa yang biasa melengkapi momen Idul Fitri.

Melihat kebiasaan tersebut, warga China menggunakannya sebagai ide untuk hantaran perayaan Cap Go Meh.

3. Semangkuk lontong Cap Go Meh harus terisi penuh

Ada cara tersendiri menikmati hidangan ini. Satu piring lontong Cap Go Meh harus terisi penuh. Pasalnya dalam budaya China, menyantap lontong Cap Go Meh sama saja dengan memohon doa dan meminta rezeki berlimpah.

Di sisi lain, ada juga yang beranggapan bahwa penyajiannya yang penuh terinspirasi dari masyarakat Jawa. Orang Jawa biasa makan dan minum dalam porsi banyak sebagai bentuk syukur atas nikmat yang telah diberikan Tuhan.

4. Isian sepiring lontong Cap Go Meh

Lontong Cap Go MehLontong Cap Go Meh isian sepiringnya juga harus penuh. Foto: Getty Images/iStockphoto

Sajian lontong Cap Go Meh biasanya berbeda di setiap daerah Indonesia. Di Semarang, lontong ini disajikan dengan opor ayam dan tak jarang juga ditambah sate serta serundeng.

Sedangkan di Jawa Timur, seperti Surabaya, hidangan ini dilengkapi dengan tambahan telur petis atau telur pindang. Di Singkawang pun berbeda lagi karena masyarakatnya banyak yang mengganti lauk ayam dengan daging babi hingga ikan pada sayur opor.

5. Makna di balik lontong Cap Go Meh

Menikmati lontong Cap Go Meh sudah menjadi tradisi yang dilakukan setiap tahunnya. Hidangan ini pun tidak sekadar menjadi pelengkap, karena setiap lauk atau kondimen sarat akan makna.

Lontong Cap Go Meh merupakan simbol perpaduan dua budaya. Lontong berbentuk panjang dianggap sebagai simbol panjang umur. Opor ayam melambangkan kesejahteraan dan keberuntungan, sebab ayam di budaya China dianggap sebagai simbol kemakmuran.

Tambahan telur pindang di dalamnya memiliki arti keberuntungan dalam budaya China. Sambal goreng ati melambangkan ketulusan hati dan keikhlasan dalam menjalani kehidupan.

Sayur labu dipercaya membawa keseimbangan dan keselarasan hidup. Begitu juga dengan kuah kaldu campur rempah berwarna kuning keemasan yang dianggap sebagai simbol kemakmuran.

Perpaduan berbagai macam lauk dalam hidangan ini dianggap sebagai lambang keberagaman dan kebersamaan. Mencerminkan hubungan harmonis antar budaya China dan Indonesia.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Kata Chef Yongki Soal Tren Makanan Viral & Kekinian"
[Gambas:Video 20detik]
(aqr/adr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads