Penggunaan jenis gelas untuk menyajikan minuman di tempat makan sering jadi sorotan. Misalnya pada coffee shop ini yang menuai sorotan setelah menggunakan gelas plastik meski pengunjung minum di tempat.
Baru-baru ini, sejumlah pengunjung di Singapura dibuat bingung oleh gelas kopi pada beberapa coffee shop yang beralih dari cangkir ke gelas plastik untuk penyajian minuman dingin. Hal ini ramai dibahas di media sosial karena ikut memengaruhi harga kopi.
Dilansir dari MustShare News (22/2), perubahan ini ramai dibahas setelah seorang pelanggan mengunggah keluhannya di laman Facebook Complaint Singapore.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menyoroti bahwa harga es kopi yang sebelumnya sekitar S$1,80 (sekitar Rp26.300) kini menjadi S$2 (sekitar Rp29.200) untuk ukuran kecil dan S$2,30 (sekitar Rp33.600) untuk ukuran besar. Kenaikan harga ini terjadi setelah kedai beralih menggunakan gelas plastik.
Gelas yang digunakan berbahan polypropylene (PP5), jenis plastik yang secara teori bisa didaur ulang. Namun, sejumlah warganet mempertanyakan efektivitas klaim tersebut. Pasalnya, meski berlabel 'recyclable', tidak semua plastik benar-benar berakhir di fasilitas daur ulang.
Data yang dikutip dalam laporan tersebut menyebutkan bahwa pada 2017 hanya sekitar 3-8% limbah plastik di Singapura yang berhasil didaur ulang. Sisanya dibakar atau dibuang ke tempat pembuangan akhir. Hal ini membuat sebagian konsumen ragu apakah penggunaan gelas plastik sekali pakai benar-benar lebih ramah lingkungan.
Perdebatan pun makin ramai karena gelas plastik itu juga digunakan untuk pelanggan yang makan atau minum di tempat (dine-in), bukan hanya untuk pesanan dibawa pulang. Beberapa netizen menilai penggunaan plastik sekali pakai untuk dine-in terasa kurang masuk akal dan justru menambah sampah.
Ada pula yang menyatakan akan menghindari kedai yang memakai gelas plastik, karena khawatir dengan dampak limbahnya. Namun di sisi lain, beberapa orang membela keputusan kedai kopi tersebut. Mereka menilai gelas plastik lebih praktis dan aman, terutama untuk minuman dingin dan pesanan takeaway.
Sebagian komentar juga menyebut faktor biaya operasional dan efisiensi sebagai alasan di balik penggunaan gelas plastik tersebut. Meski begitu, isu lingkungan tetap menjadi perhatian utama netizen.
Sebelumnya, National Environment Agency (NEA) Singapura telah menyoroti kekhawatiran tentang produksi sampah di Singapura. Sekitar 200.000 ton sampah dibuang setiap tahun di satu-satunya fasilitas pembuangan sampah di negeri Singa, Semakau.
Dengan laju saat ini, Semakau diproyeksikan akan penuh pada tahun 2035. Pemerintah pun telah menargetkan pengurangan pembuangan sampah per kapita per hari sebesar 30% pada tahun 2030, dengan target pengurangan 20% yang dipercepat menjadi tahun 2026.
NEA juga mendorong masyarakat untuk mengadopsi tas belanja, wadah, dan botol yang dapat digunakan kembali agar tidak berujung menghasilkan limbah.
One attachment β’ Scanned by Gmail
(sob/adr)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN