Heboh warung nasi padang tertua di Singapura disebut tutup gegara harga sewa mahal. Sampai-sampai pemerintah Singapura memberikan klarifikasinya.
Ramai disoroti sebuah warung nasi padang tertua di Singapura tutup. Bernama Warong Nasi Pariaman, tempat makan merupakan salah satu restoran nasi padang khas Indonesia otentik di wilayah Kampong Glam, Singapura.
Restoran ini didirikan oleh Haji Isrin, pria asal Pariaman, Sumatera Barat, Indonesia. Beruntung, sebelum penutupannya pada 31 Januari 2026 tim detikFood berhasil menyambanguinya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Restoran yang telah buka sejak 1948 ini laris manis diantre pelanggannya setianya jelang hari penutupan. Banyak pelanggan yang menyayangkan dan sedih sebab Warong Nasi Pariaman terpaksa tutup di awal 2026.
Penutupan Warong Nasi Pariaman sempat diduga gegara harga sewa yang mahal. Foto: Tim detikFood |
Pada suatu kesempatan, (30/1/2026), kami bertemu dengan salah satu pelanggan loyal Warong Nasi Pariaman yang bernama Ridwan. Ia mengungkapkan bahwa telah berlangganan sejak kecil untuk makan rendang bersama ibunya di sini.
Kepada tim detikFood, pria itu menyebutkan salah satu alasan Warong Nasi Pariaman tutup adalah karena harga sewa yang semakin tinggi.
"Di Singapura itu sewa bangunan itu dikuasai segelintir orang saja. Setiap waktu harga sewanya terus naik dan makin mahal. Makanya banyak bisnis tutup, termasuk Warong Nasi Pariaman ini. (Saya merasa) Sedih sekali karena kalau makan di sini rasanya nostalgia," ujar Ridwan.
Namun pihak Warong Nasi Pariaman ini memilih bungkam. Baik kepada media lokal atau lewat pertanyaan resminya, mereka sekadar menginformasikan penutupan warung tanpa menyebut alasan di baliknya.
Namun pemerintah setempat membantah penutupannya disebabkan oleh harga sewa yang naik mahal. Foto: Tim detikFood |
Dilansir dari The Online Citizen, (3/2/2026), penutupan Warong Nasi Pariaman menjadi sorotan termasuk pada sidang parlemen di awal Februari 2026. Sekretaris Parlemen Senior untuk Pembangunan Nasional Singapura, Dr Syed Harun Al Habsyi, menyatakan bahwa penutupan Warong Nasi Pariaman bukan disebabkan oleh tingginya biaya sewa.
Ia menekankan perwakilan keluarga pemilik restoran telah mengklarifikasi alasan penutupan tidak berkaitan dengan masalah sewa. Menurut data Urban Redevelopment Authority (URA), kenaikan harga sewa properti cenderung stabil.
Di Little India, kenaikan sewa toko mencapai 2,5%, di Chinatown kenaikannya hanya 1%. Namun ditemukan kenaikan yang variatif pada lokasi wisatawan seperti Kampong Glam, Haji Lane, dan Bali Lane yang kenaikan sewanya lebih dari 25% antara 2023-2025.
Perlu diketahui bahwa penutupan Warong Nasi Pariaman seolah menjadi kabar buruk untuk makanan Indonesia otentik di Singapura. Ketika dicicipi oleh tim detikFood sendiri rendang di sini memang yang paling mendekati dengan rendang di Indonesia, bedanya hanya pada rasa kelapa sangrai yang lebih dominan.
(dfl/adr)



KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN