Batok kelapa biasanya dinikmati airnya dan dikonsumsi daging buahnya. Namun di Jepang, ada tradisi unik menyangkut kelapa. Buah tropis ini jadi media pengirim pesan!
Jepang memiliki tradisi unik berupa melempar kelapa berisi pesan ke laut. Tradisi ini masih berlangsung hingga sekarang dan dikenal dengan nama Love Coconut Message Project.
Melansir Sora News 24 (01/02), kelapa-kelapa tersebut dilepaskan dari pesisir Ishigaki, Okinawa, lalu dibiarkan mengarungi lautan mengikuti arus alami. Tradisi ini terinspirasi dari lagu klasik Jepang berjudul Yashi no Mi yang dirilis pada 1936. Lagu tersebut bercerita tentang sebuah kelapa yang terdampar di pantai, seolah datang dari pulau yang sangat jauh.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kisah tersebut bukan sekadar fiksi. Pada 1898, seorang folkloris bernama Kunio Yanagita benar-benar menemukan kelapa terdampar di Cape Irago. Cerita itu kemudian disampaikan kepada penyair Toson Shimazaki dan diubah menjadi puisi, yang akhirnya dikenal luas lewat lagu tersebut.
Untuk menghidupkan kembali kisah dalam lagu itu, masyarakat setempat memulai Love Coconut Message Project. Setiap tahun, peserta yang disebut anggota kelapa bisa membeli kelapa dan menuliskan pesan pribadi. Pesan tersebut ditempelkan pada pelat logam kecil di bagian luar kelapa.
Isinya beragam, mulai dari ungkapan perasaan, harapan, hingga pesan sederhana yang ditujukan untuk siapa pun yang kelak menemukannya.
Peminat Love Coconut Message Project yang melempar kelapa ke laut Jepang. Foto: Sora News 24 |
Kelapa-kelapa ini kemudian dilepaskan ke laut dan mengikuti Arus Kuroshio, arus laut yang mengalir dari wilayah tropis menuju pesisir Pasifik Jepang. Tujuan akhirnya adalah Semenanjung Atsumi di Prefektur Aichi, dengan jarak sekitar 1.600 kilometer.
Selama 37 tahun terakhir, lebih dari 3.800 kelapa telah dilempar ke laut. Dari jumlah tersebut, hanya 156 yang berhasil ditemukan. Pada Oktober 2025, 6 kelapa tercatat terdampar di beberapa wilayah pesisir Jepang, seperti Kochi dan Oita.
Meski tidak ada yang sampai ke Semenanjung Atsumi, jumlah tersebut sudah dianggap cukup beruntung. Kelapa-kelapa yang berhasil ditemukan kini dipajang di Atsumi Peninsula Tourism Bureau, Tahara.
Tradisi ini masih dibuka untuk umum setiap tahun dengan biaya sekitar 3.000 yen (sekitar Rp324.000) per kelapa. Mereka yang tertarik harus mendaftar di Biro Pariwisata Semenanjung Atsumi lebih dulu.
Nantinya, jika kelapa yang dilempar ke laut berhasil ditemukan, maka pelemparnya bisa diundang ke Tanjung Irago untuk bertemu dengan penemu kelapa tersebut.
(adr/adr)


KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN