Perubahan zaman tidak hanya menggeser selera, tetapi juga makna sebuah makanan. Sejumlah hidangan yang kini identik dengan kemewahan ternyata lahir dari keterbatasan hidup masyarakat miskin.
Awalnya, makanan ini dikonsumsi karena murah, mudah didapat, atau bahkan dianggap tidak bernilai. Namun, kelangkaan, teknologi, dan pencitraan budaya mengubahnya menjadi simbol status sosial.
Contohnya sushi yang dulunya dikenal sebagai menu makanan untuk kelas bawah, kemudian ada tiram yang kini identik dengan sajian mewah dan berkelas padahal dulunya berasal dari makanan kaki lima.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dilansir dari List Verse (28/01/2026), berikut lima contoh makanan modern populer yang dahulu merupakan makanan rakyat kecil.
1. Sushi
Makan Sushi. Foto: Ilustrasi Getty Images/iStockphoto |
Sushi yang kini dikenal sebagai hidangan modern dan juga mahal sebenarnya berakar dari teknik pengawetan ikan di Jepang kuno. Pada masa itu, ikan difermentasi menggunakan nasi untuk menghasilkan asam laktat agar ikan tidak cepat busuk. Nasi tersebut tidak dimakan dan justru dibuang setelah proses fermentasi selesai.
Ikan hasil fermentasi ini dikonsumsi oleh petani dan pekerja desa sebagai sumber protein murah. Memasuki periode Edo, sushi berkembang menjadi makanan jalanan bernama nigiri, yang dijual cepat dan praktis bagi buruh kota.
Sushi saat itu dipandang sebagai makanan kelas bawah. Baru setelah teknologi pendinginan berkembang pasca-perang dunia, sushi naik kelas menjadi sajian premium dengan bahan baku berkualitas tinggi dan penyajian artistik seperti sekarang.
2. Escargot
Escargot Panggang Nikmat Foto: detikFood |
Siput darat yang kini menjadi ikon kuliner Prancis ini dulunya adalah makanan darurat bagi petani miskin. Hewan ini mudah ditemukan di kebun anggur dan tidak memerlukan biaya pemeliharaan.
Bagi warga pedesaan, escargot menjadi sumber protein gratis saat hasil ternak dan panen menipis. Pada Abad Pertengahan, siput juga dikonsumsi saat masa puasa karena tidak dikategorikan sebagai daging oleh pihak gereja.
Cara memasak siput ini sebenarnya sederhana dan jauh dari kesan mewah. Transformasi besar terjadi ketika siput atau escargot disajikan dengan mentega, bawang putih, dan peterseli oleh koki istana. Sejak saat itu, siput yang dulu dipungut dari tanah berubah menjadi hidangan elite di restoran kelas atas.
3. Sup Sarang Burung
Konsumsi Sarang Burung, Enak dan Menyehatkan! Foto: Getty Images/LightStock |
Sup sarang burung atau dikenal juga dengan nama sup burung walet, merupakan salah satu makanan termahal di dunia, namun awalnya dimanfaatkan secara sederhana oleh masyarakat pesisir di Asia Tenggara.
Menu ini terbuat dari sarang burung walet yang berasal dari air liur burung dan mengeras. Saat itu sarang ini dikumpulkan oleh warga miskin yang tinggal dekat gua-gua terjal. Sarang ini dikonsumsi sebagai sumber nutrisi tambahan dan obat tradisional untuk gangguan pernapasan.
Meski proses pengambilannya berbahaya, sarang burung dianggap sebagai bahan alami yang tersedia gratis di alam. Statusnya berubah drastis ketika hidangan ini masuk ke lingkungan bangsawan Tiongkok. Nilai kesehatan dan kesulitan panen kemudian membangun citra eksklusif dari makanan ini, menjadikannya simbol kemewahan hingga saat ini terutama dalam budaya jamuan tradisional di China.
4. Tiram
Fresh oysters from the sea. Foto: Site/Pool |
Pada abad ke-19, tiram atau oyster merupakan makanan jalanan yang sangat umum di kota-kota besar seperti New York dan London.
Harganya murah dan mudah didapat, sehingga menjadi sumber protein utama bagi warga dari kelas pekerja. Tiram bahkan sering dicampurkan ke dalam pai daging untuk menekan biaya produksi makanan.
Konsumsinya begitu masif hingga cangkangnya digunakan untuk menimbun jalan dan garis pantai. Namun, pencemaran industri dan eksploitasi berlebihan menyebabkan populasi tiram menurun drastis.
Dari makanan sehari-hari kaum buruh, tiram berubah menjadi hidangan langka dengan harga tinggi. Kini kebiasaan menyantap tiram justru identik dengan gaya hidup mewah.
5. Bluefin Tuna
Gokil! Tuna Bluefin Pertama di Tahun 2026 Laku Seharga Rp 54 Miliar Foto: AFP |
Bluefin tuna atau ikan tuna sirip biru yang dilelang hingga miliaran rupiah dulunya dianggap ikan bermutu rendah di Jepang. Nelayan Jepang awal abad ke-20 menghindari ikan ini karena kandungan lemaknya tinggi dan mudah rusak.
Bagian paling berlemak dari bluefin tuna, yaitu toro, bahkan dianggap tidak layak makan dan sering dibuang. Dagingnya yang berwarna merah tua juga tidak sesuai dengan selera saat itu.
Perubahan terjadi pada dekade 1970-an seiring meningkatnya konsumsi makanan berlemak dan kemajuan teknologi pembekuan. Lemak yang dulu dihindari justru menjadi daya tarik utama. Tuna sirip biru pun bertransformasi dari ikan terbuang menjadi primadona kuliner premium di Jepang.
Simak Video "Video Top 5: Label Nutri-Level Dirilis hingga D4vd Ditangkap soal Pembunuhan"
[Gambas:Video 20detik]
(sob/adr)






KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN