Ikan sapu-sapu sedang ramai dibicarakan karena banyak ditemukan di aliran Sungai Ciliwung. Namun, apakah ikan ini bisa dimakan? Berikut fakta ikan sapu-sapu.
Publik belakangan kembali menyoroti kemunculan ikan sapu-sapu di aliran Sungai Ciliwung. Beberapa warga tampak menangkap ikan tersebut untuk diperjualbelikan, termasuk sebagai bahan makanan.
Ikan sapu-sapu sejak lama memang diisukan menjadi bahan makanan, seperti otak-otak dan siomay. Ikan ini dipilih karena lebih murah dan bisa menghadirkan aroma serta rasa khas ikan pada umumnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, sebenarnya apa itu ikan sapu-sapu? Tergolong jenis ikan apakah itu? Berikut fakta ikan sapu-sapu, seperti dirangkum dari berbagai sumber:
1. Asal-usul ikan sapu-sapu
Wikipedia mencatat ikan sapu-sapu punya nama lain ikan bandaraya. Nama ilmiahnya Hypostomus plecostomus. Ikan ini berasal dari Amerika Selatan dan termasuk dalam famili Loricariidae, tapi tidak semua anggota Loricariidae adalah sapu-sapu.
Ikan sapu-sapu terkenal sebagai ikan 'pembersih akuarium' karena sifatnya membersihkan air dengan memakan alga dan lumut. Nama 'sapu-sapu' untuk ikan ini di Indonesia pun kabarnya karena analogi 'menyapu' atau 'membersihkan'.
Ikan ini nyaris dapat hidup bersama dengan ikan akuarium apa saja. Meski demikian, ikan ini bisa tumbuh sampai 60 cm dan menjadi kurang bersahabat untuk ikan lain.
2. Ikan sapu-sapu banyak ditemukan di Sungai Ciliwung
Ikan sapu-sapu banyak ditemukan di Sungai Ciliwung. Foto: Rifkianto Nugroho |
Keberadaan ikan sapu-sapu di aliran Sungai Ciliwung mendapat sorotan karena jumlahnya mendominasi. Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (DKPKP) Provinsi DKI Jakarta menyebut ikan sapu-sapu termasuk ikan invasif dengan daya tahan tinggi dan berkembang biak dengan cepat.
Jenisnya di Sungai Ciliwung ada Synodontis dan Hypostomus plecostomus. Dominasi keduanya memberikan dampak signifikan bagi struktur lingkungan perairan, rantai makanan, dan ekosistem sungai.
Unggahan Instagram @dkpkp.jakarta (22/1/2026) mengungkap fakta lain mengenai ikan sapu-sapu. "Meski mampu hidup di perairan tercemar, ikan ini bukan pembersih air, melainkan indikator pencemaran. Sungai Ciliwung masih didominasi limbah rumah tangga dan industri," tulis mereka.
3. Ikan sapu-sapu tidak dianjurkan untuk dikonsumsi
Menanggapi isu penangkapan ikan sapu-sapu untuk dikonsumsi manusia, DKPKP Provinsi DKI Jakarta menegaskan ikan sapu-sapu dari Sungai Ciliwung tidak dianjurkan untuk dikonsumsi manusia. Pemanfaatan ikan ini lebih cocok untuk pakan ternak, tepung ikan nonpangan, atau pupuk organik.
Sementara itu, dikutip dari detikHealth (28/1/2026), Kementerian Kesehatan (Kemenkes) ikut mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan mengonsumsi ikan yang berasal dari perairan tercemar karena berpotensi membahayakan kesehatan.
"Kalau ikannya hidup di sungai yang tercemar, maka yang berbahaya bukan hanya ikannya, tapi semua cemaran yang dia makan. Logam berat itu tidak bisa dibersihkan hanya dengan dimasak," beber Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI dr Siti Nadia Tarmizi, Selasa (27/1/2026).
4. Ikan sapu-sapu berpotensi mengandung logam berat berbahaya
Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta, Hasudungan Sidabalok, menyebut ikan sapu-sapu berpotensi mengandung logam berat berbahaya dan bakteri patogen.
Hasudungan mengungkap, "Pada perairan yang tercemar, risiko kontaminasi logam berat sangat tinggi. Termasuk cemaran bakteri seperti E coli yang berbahaya jika dikonsumsi."
Adapun risiko paparan logam berat ke tubuh antara lain merusak organ ginjal, hati, hingga sistem saraf, serta meningkatkan risiko kanker jika terakumulasi dalam waktu lama.
5. Viral jadi olahan siomay hingga abon
Ikan sapu-sapu digunakan sebagai bahan pembuatan siomay. Ilustrasi Foto: Detikcom / Atiqa Rana |
Perbincangan soal ikan sapu-sapu sebagai bahan pembuatan makanan pun ramai di media sosial. Akun X @txtdrkuliner (26/1/2026) mencuit, "Berarti siomay dari ikan sapu-sapu itu benar adanya." Mereka menyertakan link berita soal pengakuan seorang penjual siomay yang pakai ikan sapu-sapu.
Penjual itu bilang ikan sapu-sapu lebih murah bila dijadikan bahan baku siomay. Ia merasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena belum pernah ada kasus keracunan gegara makan siomay ikan sapu-sapu.
Unggahan ini juga dikomentari seorang netizen X. Ia mengatakan, siomay ikan sapu-sapu biasanya punya rasa super amis dan aromanya kurang enak. Lalu penjual kerap menambahkan banyak gula untuk menutupinya.
Selain siomay, ikan sapu-sapu juga menjadi bahan baku abon ikan. CNBC Indonesia (26/1/2026) mengungkap ada sebuah penelitian mengenai produk abon ikan sapu-sapu dari Sungai Ciliwung.
Penelitian tersebut dilakukan oleh mahasiswa Program Studi Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Al Azhar Indonesia serta Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR), Badan Teknologi Nuklir Nasional (BATAN).
Hasilnya menunjukkan, abon ikan sapu-sapu memiliki kadar abu 5,47 persen, kadar air 2,24 persen, protein 39,08 persen, dan lemak 30,59 persen.
Tiga parameter yakni kadar abu, air, dan protein dinyatakan memenuhi persyaratan mutu abon berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) 7690.1:2013. Namun, kadar protein berada di atas batas minimal 30 persen.



KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN