Menghindari Ngemil Ternyata Bisa Bikin Panjang Umur, Ini Kata Pakar

Menghindari Ngemil Ternyata Bisa Bikin Panjang Umur, Ini Kata Pakar

Sonia Basoni - detikFood
Selasa, 20 Jan 2026 14:00 WIB
Teenage girls sitting in a bedroom eating popcorn
Foto: Thinkstock
Jakarta -

Panjang umur ditentukan banyak faktor, termasuk pola makan dan gaya hidup. Pakar kesehatan ini membagikan cara mudah untuk panjang umur lewat pola makan sederhana.

Pakar kesehatan ternama Dan Buettner, membagikan tips pola makan yang dinilainya paling sederhana namun efektif untuk menurunkan berat badan sekaligus memperpanjang usia. Pola makan yang dimaksud adalah tidak ngemil di antara waktu makan.

Buettner yang merupakan bagian dari 'National Geographic Fellow' dan penulis buku terlaris ini dikenal sudah puluhan tahun meneliti populasi orang-orang tua dengan harapan hidup tertinggi di dunia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dilansir dari DailyMailUK (20/01/2026), menurutnya rahasia panjang umur tidak terletak pada suplemen, vitamin mahal, atau konsumsi camilan berprotein tinggi, tetapi fokus pada ritme atau pola makan yang teratur.

Teenage girls sitting in a bedroom eating popcornkebiasaan ngemil. Foto: Thinkstock

Dalam sebuah video yang dibagikan kepada ratusan ribu pengikutnya di Instagram, Buettner menjelaskan pendapatnya ini.

ADVERTISEMENT

"Jika ingin menurunkan berat badan dan hidup lebih lama lewat pola makan, cukup lakukan satu hal sederhana yaitu berhenti ngemil," ungkapnya.

Ia menilai banyak orang terjebak klaim kesehatan palsu yang menyebut tubuh membutuhkan asupan tambahan berupa protein, serat, atau nutrisi tertentu di luar waktu makan utama.

"Teknik marketing akan terus mengatakan Anda butuh dorongan ekstra, omega-3, protein, atau serat. Padahal, Anda tidak membutuhkannya," ujarnya.

Buettner menjelaskan, hasil penelitiannya di wilayah yang dikenal sebagai 'Blue Zones' menunjukkan pola yang konsisten.

Woman eating chips snacks, close up of handsPhoto taken in summer in sunlight outdoorsNgemil. Foto: iStock

Penduduk di wilayah tersebut yang usianya bisa mencapai 100 tahun ke atas, terbiasa mengonsumsi sarapan dalam porsi besar, makan siang secukupnya, dan makan malam ringan. Lalu merekamemberi jeda istirahat bagi sistem pencernaan selama sekitar 14 jam.

"Kami melihat dengan sangat jelas, orang-orang di Blue Zones makan teratur tanpa ngemil di antaranya, dan memberi waktu istirahat bagi tubuh dari makanan," kata Buettner.

Blue Zones merupakan kawasan Sardinia di Italia, Okinawa di Jepang, dan Ikaria di Yunani yang dikenal sebagai tempat tinggal orang-orang dengan tingkat kesehatan tinggi dan usia yang panjang atau disebut juga 'longevity'.

Buettner menambahkan bahwa kebiasaan jarang atau tidak ngemil sama sekali membantu tubuh menjaga kestabilan gula darah dan kesehatan pencernaan.

Ia menambahkan bahwa ada beberapa jenis makanan yang sama sekali tidak ia izinkan masuk ke rumahnya, yaitu daging olahan seperti sosis, nugget atau ham, serta minuman tinggi gula.

"Saya tahu bahwa daging olahan itu berkaitan dengan penyakit kanker," ujarnya.

Menurut Buettner, kunci pola makan sehat bukan terletak pada pengendalian diri semata, melainkan pada pengaturan lingkungan.


Ia sendiri sudah menjalani pola makan berbasis nabati atau vegan selama lebih dari satu dekade dan mengaku merasakan manfaatnya bagi energi, berat badan, dan kesehatan secara keseluruhan.

"Umur panjang bukan soal mengikuti tren diet terbaru, tetapi kembali pada ritme makan yang telah dijalani manusia selama berabad-abad," tutupnya.




(sob/adr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads