Sereal Bisa Jadi Makanan Non Halal, Ini Penjelasan LPPOM MUI

Devi Setya - detikFood
Jumat, 25 Mar 2022 07:00 WIB
Sereal
Foto: Getty Images/iStockphoto/beats3
Jakarta -

Meskipun bukan berasal dari Indonesia, makanan ini digemari mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Sereal yang biasa jadi menu sarapan ternyata memiliki titik kritis halal.

Rasanya yang manis gurih serta bertekstur renyah menjadikan sereal disukai banyak orang. Apalagi jika dipadukan dengan susu segar, menu ini bisa jadi pilihan sarapan bergizi yang enak.

Bahan utama untuk membuat sereal biasanya tepung dan gula. Kemudian diberi tambahan pewarna dan perasa makanan. Meskipun terlihat sederhana tetapi ternyata sereal ini juga berpotensi menjadi makanan non-halal.

Dilansir dari Halal MUI (24/3) beberapa waktu lalu pernah ditemukan produk sereal yang ternyata mengandung DNA babi. Hal ini tentu menyita perhatian, apalagi produk sereal asal Korea Selatan ini dipasarkan di Indonesia.

Atas keresahan ini, pihak LPPOM MUI membeberkan komposisi sereal secara umum agar bisa dipelajari oleh masyarakat. Selain itu, masyarakat diminta untuk tetap teliti dan berhati-hati sebelum membeli dan mengonsumsi produk makanan.

Bagi orang awam, melihat daftar bahan baku saja tidak cukup menjelaskan status hukum suatu produk. Karena itu sebelum membeli, seorang muslim wajib untuk mengetahui produk sudah memiliki logo Halal MUI dan izin edar. Setelah itu, cek masa kedaluwarsa produk. Inilah cara termudah dalam menyeleksi produk.

Berikut beberapa bahan utama untuk membuat sereal yang perlu diteliti status halalnya:

1. Tepung

Pada dasarnya, tepung termasuk ke dalam kelompok "Bahan Tidak Kritis". Hal ini dikarenakan, produk tepung berasal dari nabati diolah melalui proses fisik tanpa penambahan bahan apa pun.

Namun, kini sudah banyak tepung yang diproduksi dengan penambahan bahan aditif seperti vitamin dengan tujuan meningkatkan nilai gizi. Bahan tambahan inilah yang perlu ditelusuri kehalalannya.

SerealSereal Foto: Getty Images/iStockphoto/beats3

2. Gula

Gula pasir perlu melalui beberapa tahapan, mulai dari proses ekstraksi, penjernihan, evaporasi, kristalisasi, hingga pengeringan. Tahapan-tahapan ini berpeluang menggunakan bahan campuran yang menggunakan karbon aktif.

Apabila karbon aktif berasal dari hasil tambang atau arang kayu, maka tidak menjadi masalah. Akan tetapi, apabila menggunakan arang tulang, maka harus dipastikan berasal dari hewan halal yang disembelih sesuai syariat Islam.

3. Perisa makanan

Menurut Dr. Nancy Dewi Yuliana, dosen Ilmu Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor sekaligus auditor halal LPPOM MUI, ada dua jenis perisa, yakni perisa alami dan artifisial. Perisa buah alami umumnya berasal dari bahan nabati dan melalui proses pengolahan secara fisik, misalnya melalui pengepresan tanpa penambahan bahan lain. Maka bisa dikatakan perisa alami yang diolah seperti ini termasuk bahan tidak kritis.

"Sedangkan perisa sintetik lebih kompleks dan dari segi kehalalan pun bisa termasuk kategori bahan kritis. Meski dari nama tampaknya aman, karena flavour buah, namun terkadang ditemui juga bahan penyusun flavour buah sintetik yang merupakan turunan lemak," jelas Nancy.

Turunan lemak inilah yang harus ditelusuri asalnya. Apabila lemak berasal dari hewan haram, seperti babi, maka sudah dapat dipastikan haram. Namun, apabila lemak berasal dari hewan halal, maka harus dipastikan cara penyembelihan sesuai dengan syariah Islam.



Simak Video "Menengok Restoran Halal di Angeles City, Filipina"
[Gambas:Video 20detik]