5 Fakta Patola, Olahan Daging Ular Piton Berempah khas Minahasa

Riska Fitria - detikFood Senin, 23 Agu 2021 17:30 WIB
5 Fakta Patola, Olahan Daging Ular Piton Berempah khas Minahasa Foto: Getty Images
Jakarta -

Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara memiliki kuliner khas yang terbilang ekstrem. Bernama patola yang terbuat dari ular piton.

Ular piton, mendengar namanya saja sudah bikin bergidik apalagi melihatnya secara langsung. Namun di Minahasa, Sulawesi Utara, ular piton justru diolah menjadi makanan khas Minahasa.

Mengonsumsi makanan yang terbilang ekstrem bukan hal yang tabu bagi masyarakat Sulawesi Utara. Bahkan di Pasar Tomohon, Manado pun banyak menawarkan daging dari hewan-hewan tak biasa.

Seperti kelelawar, anjing, tikus, ular piton dan masih banyak lagi. Lantas, seperti apa kuliner patola tersebut dan apakah mengonsumsi ular piton sudah menjadi bagian tradisi di Minahasa?

Berikut fakta tentang patola yang terbuat dari ular piton:

1. Ular Piton Dianggap Sakral

5 Fakta Patola, Olahan Daging Ular Piton Berempah khas Minahasa5 Fakta Patola, Olahan Daging Ular Piton Berempah khas Minahasa Foto: Tommy a Lasut

Masyarakat Minahasa mengenal ular piton dengan sebutan tumotongko. Dikutip dari berbagai sumber, masyarakat Minahasa sudah terbiasa dengan ular piton. Itu karena ada sebuah kisah dari Legenda yang mereka yakini.

Menurut pegiat budaya Minahasa Denni Pinontoan, ada banyak hewan yang dianggap sakral bagi leluhur Minahasa. Salah satunya ular piton karena dipercaya dapat memberikan pertanda baik atau buruk.

Misalnya ketika sedang berada di jalan, kemudian tiba-tiba ada ular yang memotong jalan. Ketika itu dianjurkan untuk berhenti sejenak. Ular itu dianggap memberi tanda bahwa akan ada sesuatu yang buruk di depan.

Baca Juga: 5 Mukbang Ekstrem YouTuber Indonesia, Makan Kelelawar hingga Tikus!

2. Makan Ular Piton Tradisi atau Tren?

5 Fakta Patola, Olahan Daging Ular Piton Berempah khas Minahasa5 Fakta Patola, Olahan Daging Ular Piton Berempah khas Minahasa Foto: Yoseph Ikanubun

Masyarakat Minahasa memiliki tradisi berburu di hutan. Biasanya mereka berburu hewan-hewan seperti babi, tikus dan kelelawar untuk dikonsumsi. Sebenarnya tidak ada pemburu yang secara khusus berburu ular piton.

Dikutip dari Liputan 6 (04/07/2017), Denni menyebutkan bahwa kebiasaan makan ular piton di Minahasa merupakan tren yang berkembang. Menurutnya, itu dipengaruhi dengan tren makan daging hewan untuk pengobatan.

Meskipun begitu, Denni mengatakan bahwa itu harus diteliti lagi. Lebih lanjut, Denni juga menyebut hanya orang-orang tertentu yang memang suka saja makan ular piton.

Hal itu berbeda dengan mengonsumsi daging anjing dan daging babi yang memang sudah sejak lama dikonsumsi masyarakatMinahasa.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3

Redaksi: redaksi[at]detikfood.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com