Anjuran 'Berbukalah dengan yang Manis' Bukan Berasal dari Sunnah Nabi Muhammad SAW

Riska Fitria - detikFood Rabu, 14 Apr 2021 17:00 WIB
Anjuran Berbukalah dengan yang Manis Bukan Berasal dari Sunnah Nabi Muhammad SAW Foto: iStock
Jakarta -

Selama bulan Ramadhan populer istilah 'Berbukalah dengan yang manis'. Namun, apakah hal itu sesuai dengan sunnah Nabi Muhammad SAW? Ini penjelasannya.

Istilah 'berbukalah dengan yang manis' sudah tak asing lagi di telinga kita. Bahkan banyak orang yang menjadikan istilah tersebut sebagai pedoman saat berbuka puasa.

Alhasil semua makanan manis pun disantap saat waktu berbuka. Namun, tahukah kamu bahwa sebenarnya istilah 'berbukalah dengan yang manis' bukan berasal dari sunnah Nabi Muhammad SAW.

Baca Juga : Ini Keutamaan dari Menyegerakan Waktu Berbuka Puasa

Anjuran 'Berbukalah dengan yang Manis' Bukan Berasal dari Sunnah Nabi Muhammad SAWAnjuran 'Berbukalah dengan yang Manis' Bukan Berasal dari Sunnah Nabi Muhammad SAW Foto: iStock

Istilah tersebut merupakan tagline dari sebuah brand minuman teh. Hal ini diungkap lewat cuitan @gizipedia (09/04) yang telah dikonfirmasi detikfood (14/04). Lewat cuitannya juga, brand minuman teh tersebut mengatakan bahwa tagline itu telah dipakai sejak tahun 2006.

"TehBotol Sosro di moment Ramadhan dengan tagline Berbukalah dengan yang manis. Tagline Ramadhan tersebut kami gunakan kurang lebih sekitar 10 tahun yang lalu," bunyi cuitannya (20/07/16).

Pasalnya Hadist yang menganjurkan berbuka puasa dengan yang manis tidak ditemukan. Nah, kalau berbuka puasa berdasarkan sunnah Nabi Muhammad SAW telah diterangkan lewat Hadist Riwayat bu Daud no. 2356 dan Ahmad.

Anjuran 'Berbukalah dengan yang Manis' Bukan Berasal dari Sunnah Nabi Muhammad SAWAnjuran 'Berbukalah dengan yang Manis' Bukan Berasal dari Sunnah Nabi Muhammad SAW Foto: iStock

"Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam biasanya berbuka dengan ruthab (kurma basah) sebelum menunaikan shalat. Jika tidak ada ruthab, maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering). Dan jika tidak ada yang demikian beliau berbuka dengan seteguk air,"

Namun, beberapa ulama ada juga yang menganjurkan untuk berbuka puasa dengan yang manis. Seperti yang disampaikan oleh Ulama Al Hattab Ar Ru'aini lewat kitab Mawahibul Jalil fi Syarhi Mukhtashar Khalil.

Ia menafsirkan perintah berbuka dengan ruthap atau kurma bertujuan untuk memulihkan penglihatan menurun akibat puasa. Jika kurma tidak ada, maka bisa diganti dengan makanan manis.

"Di antara sunah-sunah puasa adalah menyegerakan berbuka, sebagai bentuk kasih sayang kepada orang yang lemah, menyayangi diri dan menjadi pembeda dengan orang yahudi. Dan dengan memakan kurma atau apa yang semakna dari yang manis-manis, agar mengembalikan penglihatan yang berkurang lantaran puasa,".

Anjuran 'Berbukalah dengan yang Manis' Bukan Berasal dari Sunnah Nabi Muhammad SAWAnjuran 'Berbukalah dengan yang Manis' Bukan Berasal dari Sunnah Nabi Muhammad SAW Foto: iStock

Pendapat serupa juga disampaikan oleh Ulama Al Qadhi Ar Ruyani dalam kitabnya Al Majmu' Syarh Al Muhadzdzab. "Berbuka itu dengan kurma, bila tidak ada maka dengan halawah (manis-manis), bila tidak ada maka dengan air',".

Kata halawah diartikan sebagai makanan yang manis-manis. Jadi, intinya berbuka dengan yang manis bukan berarti tidak diperbolehkan. Hanya saja anjuran itu bukan berasal dari sunnah Nabi Muhammad SAW.

Berbuka puasa dengan yang manis tentu saja diperbolehkan. Sebab bagaimanapun tubuh tetap membutuhkan makanan manis agar gula darahnya stabil saat berpuasa, seperti yang dikutip dari Gizi Pedia. Asalnya jangan berlebihan.

Baca Juga :Ikuti Sunnah Sahur Rasulullah Supaya Puasa Lancar dan Penuh Berkah



Simak Video "Buka Puasa ala Timur Tengah di Al Kabsa"
[Gambas:Video 20detik]
(raf/odi)

Redaksi: redaksi[at]detikfood.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com