Andy Mariani, Satu-Satunya Petani yang Tersisa di Silicon Valley

Diah Afrilian - detikFood Selasa, 06 Apr 2021 18:30 WIB
Andy Mariani, Satu-Satunya Petani yang Tersisa di Silicon Valley Foto: Growwing Produce
Jakarta -

Lahan pertanian semakin lama semakin berkurang. Begitu juga profesi petani yang semakin lama semakin ditinggalkan seperti di Silicon Valley, California ini.

Petani ladang menjadi lahan pekerjaan yang semakin lama semakin ditinggalkan. Generasi yang baru sangat sedikit bahkan hampir tidak ada yang ingin meneruskan profesi menjadi petani.

Bahkan sebagian besar anak petani pun pasti menginginkan pekerjaan yang lain selain petani. Pemikiran bahwa banyak pekerjaan lain yang lebih baik daripada menjadi petani menjadi salah satu yang mempengaruhi jumlah petani yang terus berkurang.

Tak hanya di Indonesia. Bahkan di luar negeri sekalipun yang teknologi pertaniannya sudah canggih, pasar yang mendukung hingga lahan yang masih tersedia banyak juga mengalami kekurangan petani.

Seperti yang dilansir melalui Growing Produce (4/6) Andy Mariani menjadi satu-satunya petani buah yang tersisa di Silicon Valley. Sejak tahun lalu, ia resmi menjadi satu-satunya petani setelah tetangganya memanen aprikot dan ceri dari lahan seluas 80 hektar untuk terakhir kalinya sebelum menutup lahannya.

Andy Mariani, Satu-Satunya Petani yang Tersisa di Silicon ValleyAndy Mariani, Satu-Satunya Petani yang Tersisa di Silicon Valley Foto: Growwing Produce

Silicon Valley juga menjadi tempat yang terkenal dengan pembangunan real estate yang banyak diminati. Hal ini juga membawa pengaruh besar bagi para petani untuk menjual lahannya dengan harga yang tinggi.

Mariani pindah ke Silicon Valley juga karena orang tuanya yang telah menjual lahan mereka sebelumnya di daerah Cupertino. Menurut keterangannya, lahan ini telah berubah fungsi menjadi kantor pusat sebuah perusahaan teknologi, Apple.

"Kami menjualnya seharga Rp. 130,5 Juta per hektar pada tahun 1958. Mungkin sekarang menjadi Rp. 390 juta per meter perseginya," Kata Mariani.

Alasan keluarganya pindah dari Cupertino ke Silicon Valley adalah juga karena harga tanah yang mahal saat itu. Sekarang, ia harus menghadapi rekan sesama petani buah menjual tanah mereka.

Baca juga: 5 Kisah Sukses Jadi Petani, Mantan Preman hingga Lulusan UGM

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Masak Masak: Tips Bikin Kue Kering Tanpa Oven"
[Gambas:Video 20detik]

Redaksi: redaksi[at]detikfood.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com