Asal Muasal Nama Warung Kongde dan Nama Lauk yang Unik

Yenny Mustika Sari - detikFood Kamis, 19 Des 2019 12:00 WIB
Foto: dok. detikFood Hilda Meilisa Rinanda
Jakarta - Warung Kongde atau Bokong Gede di Surabaya sudah eksis selama 25 tahun. Ada kisah unik dari nama warung plus aneka lauk yang mencuri perhatian ini.

Pemilik warung Siti Maisun atau Bu May menyebut nama Kongde ini lahir dari celetukan para pembeli. Para pembeli ini juga kerap bercanda dan menamai sendiri menu makanannya dengan nama yang aneh-aneh.

Bu May juga mengaku langganannya kebanyakan polisi di Polrestabes Surabaya hingga Polda Jatim. Saking hafalnya, mereka sudah tak canggung lagi untuk bercanda terkait nama-nama unik dari menu makanan Bu May.
Asal Muasal Nama Warung Kongde dan Nama Lauk yang UnikFoto: dok. detikFood Hilda Meilisa Rinanda

"Biasanya kan orang-orang makan itu kadang kusruh-kusruh langganan-langganan lama itu. Kalau waktu Kongde itu kan polisi-polisi waktu saya nguleg itu bilang itu bokong apa tong sampah, gitu. Mulai dari polisi Polrestabes, Polda Jatim. Pak Toni sama pak Iwan, masih banyak yang langganan, tapi juga banyak yang pensiun," kata Bu May di warungnya, Rabu (18/12/2019).

Sementara dalam sehari, Bu May mengaku tak menghitung berapa banyak porsi yang dia jual. Dia menyebut menghabiskan 75 kilogram beras dalam sehari.

Selain itu, untuk cuminya, Bu May menghabiskan hingga 50 kilogram. Di warung ini, cumi ngac*ng merupakan kudapan yang paling laris manis.
Asal Muasal Nama Warung Kongde dan Nama Lauk yang UnikFoto: dok. detikFood Hilda Meilisa Rinanda

"Banyak non. Kalau berasnya itu 3 sak 75 kilogram. Banyak juga porsinya, ndak bisa dihitung. Parunya kadang setiap hari 10 kilo, cuminya 50 kilo, dagingnya 20 kilo," paparnya.

Bahkan, jika datang menjelang pukul 15.00 WIB, sudah dipastikan banyak olahan di sini yang telah habis. Bu May mengaku usahanya ini merupakan turun temurun dari kakaknya.
Asal Muasal Nama Warung Kongde dan Nama Lauk yang UnikFoto: dok. detikFood Hilda Meilisa Rinanda

"Saya di sini 25 tahun, buka dari jam 07.00 WIB sampai jam 15.00 WIB. Kalau sudah jam 15.00 WIB itu nasi ngawur. Karena banyak yang habis, ndak lengkap. Ini usaha dari kakak saya dan saya. Resep turun temurun. Saya asli Madura tapi tinggal di sini," pungkasnya.

Jika ingin mencoba sensasi cumi ngac*ng hingga jemb*t Belanda, tak rugi rasanya mampir ke Warung Kongde. Warungnya bertenda biru. Pilihan nasinya komplet. Nasi campur, nasi rawon, nasi sop, nasi gule, nasi kotokan pe, nasi madura, nasi cumci-cumi, nasi krengsengan, nasi penyetan ayam hingga nasi sayur bening. Lokasinya di dekat perkantoran, tepatnya di Jalan Bubutan II Surabaya.

Simak Video "Sensasi Rasa Dawet Hitam, Lebih Kenyal dan Gurih"
[Gambas:Video 20detik]
(odi/odi)